Repelita Jakarta - Irak dan Kuba mengalami pemadaman listrik berskala besar yang terjadi hampir bersamaan di tengah eskalasi ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat Israel serta Iran.
Di Irak pemadaman listrik meluas setelah pasokan gas alam dari Iran ke beberapa pembangkit listrik mengalami penurunan drastis sehingga menyebabkan hilangnya kapasitas daya sekitar seribu sembilan ratus megawatt.
Penurunan pasokan gas tersebut langsung mengganggu operasional pembangkit sehingga jaringan listrik nasional mengalami gangguan serius dan sejumlah wilayah termasuk Baghdad serta kawasan selatan diliputi kegelapan.
Penurunan tersebut menyebabkan hilangnya daya listrik secara cepat sebesar 1.900 megawatt.
Irak sangat bergantung pada impor gas dari Iran untuk mengoperasikan pembangkit listriknya di mana sekitar tiga puluh hingga empat puluh persen kebutuhan listrik nasional dipenuhi dari sumber tersebut.
Ketergantungan tinggi ini tidak lepas dari kerusakan infrastruktur energi yang terjadi sejak Perang Teluk tahun sembilan belas sembilan puluh satu serta konflik berkepanjangan pasca invasi Amerika Serikat pada tahun dua ribu tiga.
Sementara itu Kuba juga menghadapi pemadaman listrik luas yang dimulai pada tanggal empat Maret dua ribu dua puluh enam di mana sekitar dua pertiga wilayah negara termasuk ibu kota Havana kehilangan pasokan listrik.
Gangguan tersebut dipicu oleh kerusakan pada salah satu pembangkit termoelektrik terbesar yang menyebabkan sistem kelistrikan nasional mengalami ketidakstabilan signifikan.

Krisis listrik di Kuba semakin diperburuk oleh kelangkaan bahan bakar yang telah berlangsung lama serta hambatan pasokan minyak dari Venezuela yang selama ini menjadi pemasok utama energi bagi negara tersebut.
Di tengah kondisi rapuh tersebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington berpotensi melakukan pengambilalihan Kuba secara damai dengan alasan pemerintah Havana sedang berkomunikasi dengan pihak Amerika.
Peristiwa pemadaman listrik di kedua negara ini semakin menambah tekanan pada sektor energi global terutama ketika rivalitas serta konflik geopolitik terus meningkat di berbagai kawasan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

