
Repelita Jakarta - Pengamat energi sekaligus ekonom dari Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi mencatat bahwa harga minyak dunia telah mengalami kenaikan sejak serangan pertama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu dua puluh delapan Februari dua ribu dua puluh enam.
Menurut pengamatannya harga minyak dunia naik dari sekitar enam puluh tujuh dolar Amerika per barel menjadi delapan puluh dolar Amerika per barel saat ini dan berpotensi terus meningkat jika eskalasi konflik semakin meluas hingga mencapai seratus dolar Amerika per barel atau bahkan lebih tinggi.
Indonesia menghadapi situasi sulit karena statusnya sebagai negara importir minyak dalam volume yang cukup signifikan sehingga penutupan Selat Hormuz oleh Iran akan langsung memengaruhi harga minyak global secara drastis.
Selat Hormuz merupakan jalur persimpangan utama bagi kapal-kapal pengangkut minyak mentah sehingga gangguan di sana memicu lonjakan harga karena mengganggu alur pasokan energi dunia.
Iran termasuk produsen minyak terbesar keempat dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dengan produksi diperkirakan melebihi tiga juta barel per hari pada Januari dua ribu dua puluh enam dan memiliki garis pantai yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz.
Indonesia mengimpor minyak sekitar satu koma dua juta barel per hari sehingga penutupan Selat Hormuz akan menimbulkan dampak langsung terhadap harga serta menambah beban keuangan pemerintah secara signifikan.
Dengan harga minyak mencapai delapan puluh dolar Amerika per barel saja beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara menjadi semakin berat terutama pada sektor subsidi energi yang akan membengkak.
Pemerintahan Prabowo Subianto dihadapkan pada pilihan yang sulit antara menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi seperti Pertalite dan Solar yang akan menambah tekanan pada daya beli masyarakat atau mempertahankan harga tetap dengan konsekuensi subsidi energi yang melonjak drastis.
Fahmy Radhi menyatakan bahwa subsidi energi akan membengkak signifikan jika harga minyak terus naik dan ia belum menghitung angka pastinya namun dampaknya dipastikan sangat berat bagi keuangan negara.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

