Repelita Jakarta - Pemerhati politik dan kebangsaan Rizal Fadillah menyampaikan pernyataan tegas mengenai dugaan keterlibatan Indonesia dalam agenda yang dikaitkan dengan kepentingan Israel.
Ia menegaskan bahwa sikap Indonesia selama ini tetap konsisten mendukung perjuangan Palestina serta menolak segala upaya normalisasi hubungan dengan Israel.
Rizal menyatakan bahwa partisipasi Israel dalam ajang olahraga sering ditolak oleh banyak negara termasuk Indonesia sementara produk Israel terus diserukan untuk diboikot secara luas.
Menurutnya dukungan masyarakat Indonesia terhadap Palestina juga tercermin dari seruan pengucilan serta hukuman terhadap Israel sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan yang dianggapnya tidak manusiawi.
Rizal menilai Zionis Israel sebagai musuh dunia dan musuh kemanusiaan karena tindakan yang dianggapnya kebiadaban luar biasa terhadap bangsa Palestina.
Ia menyoroti pendudukan Tepi Barat serta penghancuran Gaza sebagai bukti nyata dari apa yang disebutnya sebagai kebiadaban yang tidak bisa ditoleransi.
Rizal menyebut Benjamin Netanyahu sebagai Iblis berbentuk manusia yang bertanggung jawab atas penderitaan rakyat Palestina.
Ia mengingatkan bahwa bangsa Indonesia dan para pemimpinnya dikenal vokal dalam membela Palestina serta mengutuk keras kebijakan Israel.
Rizal menambahkan bahwa simpati terhadap perjuangan Palestina serta dukungan penuh terhadap kemerdekaan Palestina telah menjadi sikap resmi bangsa Indonesia.
Ia menegaskan penolakan pembukaan hubungan diplomatik dengan Israel didasarkan pada sandaran konstitusi yang menjadi landasan sikap anti-Israel.
Rizal juga menyinggung dukungan penuh Amerika Serikat terhadap Israel dalam bentuk dana senjata serta operasi yang dianggapnya sebagai genosida.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan dugaan keterlibatan Indonesia dalam organisasi yang disebutnya sebagai bentukan Amerika bernama Board of Peace yang menurutnya sama dengan Blood of Peace.
Rizal menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah membawa Indonesia bersahabat dengan Israel melalui organisasi tersebut.
Menurutnya Donald Trump sebagai komandan sedang menjalankan misi kepentingan Israel dengan pola memeras dan memberi santunan kepada negara sasaran.
Rizal menilai agenda tersebut tidak berpihak pada kemerdekaan Palestina melainkan menjadikan Gaza sebagai barang dagangan untuk menipu dan menjebak.
Ia menegaskan bahwa target utama Israel adalah pelucutan senjata Hamas sementara kemerdekaan Palestina semakin jauh dari tujuan.
Rizal menyebut adanya pola diplomasi multilateral dan bilateral yang dimainkan Israel dengan dukungan Amerika Serikat melalui organisasi yang disebutnya sebagai klub suap menyuap.
Ia menilai Prabowo dan Indonesia sebagai sasaran empuk karena dianggap rentan terhadap pujian serta lapar akan bantuan.
Rizal memperingatkan bahwa jika misi tersebut berhasil maka organisasi Blood of Peace akan menjadi kekuatan dikte kepentingan Israel untuk mengatur Indonesia dengan menjadikan Prabowo sebagai sandera.
Ia menyatakan bahwa rakyat Indonesia terpaksa harus berhadapan dengan pemimpin yang sudah terjerat kepentingan Amerika dan Israel.
Rizal menyerukan bahwa tiada pilihan lain bagi rakyat selain melawan serta umat Islam siap berjihad fie sabilillah berperang semesta untuk menghadapi pemimpin yang dianggapnya sebagai kolaborator zionis.
Ia menambahkan bahwa perjuangan tersebut harus dimulai sejak bulan Ramadhan yang dikenal sebagai syahrul jihad serta bulan awal sidang Blood of Peace.
Rizal mengajak para tokoh agama seperti kyai ulama habaib pimpinan ormas serta MUI untuk kembali menata posisi diri serta bangkit berjuang sungguh-sungguh dengan mengorbankan jiwa dan raga tanpa terjebak dalam kemewahan.
Ia mengutip firman Allah dalam surah At-Taubah ayat empat puluh satu yang berbunyi Berangkatlah untuk berperang baik dengan ringan atau rasa berat dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui sebagai penutup pernyataannya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok

