Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

PSI dengan Patronase Jokowi Dikabarkan Akan Jadi Predator Partai Papan Tengah, PAN, Demokrat hingga PKS Masuk Zona Bahaya?

 

Repelita - Kehadiran Partai Solidaritas Indonesia yang secara terbuka didukung oleh Presiden Joko Widodo diprediksi akan memberikan dampak signifikan terhadap peta kekuatan politik nasional, terutama untuk partai-partai berukuran menengah.

Pengamat politik Heru Subagia menilai dukungan terbuka dari Joko Widodo tersebut bukanlah sekadar bentuk simbolis melainkan sebuah langkah strategis yang berpotensi mengambil porsi suara elektoral dari beberapa partai yang telah ada.

“Dalam jangka pendek, salah satu konsekuensi politik yang akan segera hadir adalah bagaimana PSI akan bekerja secara organik,” ujar Heru dalam keterangan yang disampaikan pada Minggu (8/2/2026).

Dukungan dari mantan presiden tersebut juga dinilai merepresentasikan posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sehingga mengubah persepsi publik terhadap PSI sebagai partai kecil menjadi kekuatan baru yang patut diperhitungkan.

Heru menyebut PSI dengan patronase politik dari Joko Widodo akan berfungsi seperti pemangsa bagi partai-partai yang basis elektoralnya berada di level menengah, dengan target utama adalah PAN, Demokrat, PKB, NasDem, dan PKS.

“Korban utamanya adalah PAN, Demokrat, PKB, NasDem, dan PKS. Ini adalah market yang paling mudah diambil, baik di level pengurus maupun pemilih,” jelasnya.

Menurut analisanya, berbagai manuver politik yang dilakukan oleh Partai Amanat Nasional belakangan ini tidak terlepas dari ancaman tersebut, termasuk wacana duet Prabowo Subianto dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan.

“Saya kira ini bukan tanpa alasan. PAN sedang berusaha mempertahankan elektoral, baik secara pribadi, institusi, maupun organisasi,” terang Heru.

Strategi PAN untuk tetap bertahan adalah dengan membangun narasi loyalitas terhadap Presiden Prabowo Subianto, sebuah langkah yang dianggap sebagai upaya legitimasi politik untuk mempertahankan basis dukungannya.

Namun Heru mengingatkan bahwa dalam Kongres PAN menjelang Pilpres 2024, nama Prabowo Subianto sama sekali tidak tercantum sebagai calon yang diusung oleh partai tersebut, menunjukkan dinamika internal yang kompleks.

Upaya PAN untuk memperkuat pengaruh dengan memasukkan sejumlah menteri ke dalam struktur partai juga dinilai sebagai strategi membangun kekuatan dari dalam kabinet untuk mendukung kepentingan elektoral jangka panjang.

Meskipun demikian, posisi PAN dinilai tetap rentan karena pengaruh Joko Widodo dalam pemerintahan saat ini masih sangat dominan, menjadikan partai tersebut hanya sebagai bagian pinggiran dari kekuasaan.

“Postur kabinet menunjukkan saham Jokowi terlalu banyak. PAN dan Zulhas pada akhirnya hanya menjadi bagian periferal dari kekuasaan itu,” tegas Heru.

Kondisi ini diprediksi semakin mengancam ketika Joko Widodo secara terbuka mendeklarasikan PSI sebagai rumah politiknya, yang akan memecah konsolidasi kekuatan yang sebelumnya terbangun.

“Di titik inilah kekuatan yang sebelumnya menyatu mulai terpecah. PSI dengan semangat Jokowi dan Kaesang terang-terangan menargetkan diri menjadi partai besar,” imbuhnya.

PSI disebutkan memiliki target perolehan suara yang cukup ambisius, yaitu sekitar 17 hingga 20 persen, yang jelas akan menjadi ancaman serius bagi partai lain baik yang selama ini berseberangan maupun yang sekubu.

Heru menegaskan bahwa partai-partai seperti PAN harus segera melakukan koreksi arah politik dan kembali ke identitas ideologisnya, bukan hanya mengandalkan transaksi politik, agar dapat bertahan dari ancaman tersebut.

“Kalau tidak berubah, pasar PAN akan hangus. Ini keniscayaan, padahal PAN adalah partai reformasi yang sejak awal berdiri hingga kini masih eksis,” pungkasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved