
Repelita Yogyakarta - Akademisi Rocky Gerung mengkritik keras pemerintah terkait kasus seorang siswa SD di Ngada, NTT, yang meninggal dunia karena bunuh diri akibat tidak mampu membeli buku seharga Rp10 ribu.
Peristiwa pilu ini menimpa YBS (10), seorang siswa kelas IV SD di Ngada, NTT, yang memilih mengakhiri hidupnya karena orang tua tidak memiliki cukup uang untuk membelikan buku dan pena.
Dalam sebuah kuliah di UGM yang bertajuk "Masa Depan Demokrasi: Polisi, Militer, Gerakan Sosial", Rocky Gerung menyatakan bahwa negara telah gagal menjalankan prinsip Republikanisme.
Di awal kuliahnya, Rocky mengaku tersentak mendengar kabar tentang seorang anak SD yang memilih mengakhiri hidupnya demi meringankan beban ibunya.
Rocky mengatakan, seperti dikutip Disway.id dari kanal YouTube Department of Politics and Government - Universitas Gadjah Mada pada Rabu, 3 Januari 2026, bahwa ia tadi membaca berita di NTT, seorang anak berumur 10 tahun memilih bunuh diri, saya pakai kata memilih, untuk menyelamatkan hidup ibunya.
Ia meminta dibelikan buku, ibunya bilang tidak punya uang lalu, dia memilih untuk bunuh diri.
Satu tindakan republikanisme, lanjutnya.
Rocky kemudian menyinggung keseriusan negara dalam upaya mengentaskan kemiskinan ekstrem.
Ia membandingkannya dengan sikap Presiden Prabowo Subianto yang rela menggelontorkan dana sebesar Rp17 triliun untuk mendukung Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Menurut Rocky, tindakan yang dilakukan oleh anak SD tersebut sangat rasional, karena rakyat kecil seringkali menghadapi situasi sulit yang luput dari perhatian negara.
Rocky menyindir, anak 10 tahun bisa memilih bunuh diri dan menulis surat kepada ibunya, ibu saya pergi dulu, ibu tidak perlu bersedih.
Harga buku itu berapa? 10 Ribu.
10 ribu itu berapa per mil dari Rp17 triliun yang disumbangkan Prabowo kepada Donald Trump, ujarnya.
Rocky juga mempertanyakan kepekaan Prabowo dan etos kerja Republik.
Sehingga, menurutnya, apa yang dilakukan oleh YBS di NTT merupakan tindakan rasional, meskipun harus merelakan nyawanya.
Rocky mengatakan, apakah Prabowo punya etos republikanisme atau anak 10 tahun yang memilih secara rasional untuk bunuh diri itu tindakan rasional yang sangat dewasa walaupun dengan konsekuensi yang secara psikologis kita perlu periksa.
Rocky menilai bahwa peristiwa yang menimpa YBS di Ngada mengindikasikan adanya masalah serius dalam urusan Republik.
Rocky menegaskan, tapi dia memilih untuk dia mau pergi, tanpa ragu dia putuskan hidup saya harus saya hentikan supaya hidup ibu saya berlanjut, supaya hidup lima adiknya berlanjut, supaya hidup kecamatan itu berlanjut, supaya hidup kabupaten di NTT berlanjut.
Supaya publik mengerti bahwa ada yang enggak beres dengan urusan Republik, tegasnya.
YBS, seorang siswa asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, ditemukan meninggal dunia karena bunuh diri dengan meninggalkan secarik kertas.
YBS memilih mengakhiri hidupnya karena sang ibu tidak mampu membelikan buku tulis dan pena.
Hal ini kemudian menarik perhatian publik dan menuai kecaman dari berbagai pihak.
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menilai bahwa kejadian meninggalnya siswa kelas IV sekolah dasar (SD) yang diduga mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli alat tulis, merupakan teguran keras bagi pemerintah, khususnya dalam dunia pendidikan.
Peristiwa mengenaskan tersebut terjadi di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hetifah mengatakan dalam konfirmasinya pada Rabu, 4 Febuari 2026, bahwa tragedi ini bukan sekadar kabar duka, melainkan alarm keras bagi negara dan masyarakat.
Peristiwa yang sangat menyayat hati dan tidak bisa diterima di negara mana pun.
Ia menegaskan bahwa pendidikan anak seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah yang harus dipenuhi serta dilindungi.
Hetifah menegaskan, anak usia 10 tahun seharusnya dilindungi dan dibantu, bukan sampai merasa putus asa hanya karena buku dan pena.
Kasus ini, lanjutnya, menunjukkan bahwa sangat penting bagi semua pihak untuk mengoreksi sistem pendidikan, perlindungan sosial, dan kepedulian lingkungan sekitar.
Hetifah mengatakan, pendidikan dasar seharusnya benar-benar gratis dan inklusif, tanpa membebani anak dari keluarga miskin.
Ia menambahkan bahwa kedepan, sistem pendidikan harus benar-benar menjamin sekolah dasar gratis termasuk perlengkapan belajar.
Hal itu agar tidak kembali lagi tragedi mengenaskan ini.
Perlindungan sosial harus aktif dan tepat sasaran bagi keluarga rentan tanpa menunggu tragedi terjadi, pungkasnya.
Menurutnya, kepedulian sosial juga wajib dibangun kuat, baik itu di sekolah maupun keluarga dan lingkungan sekitar.
Ia menambahkan, di sekolah dan masyarakat agar setiap anak yang kesulitan segera dibantu dan tidak pernah merasa sendirian menghadapi kemiskinan.
Editor: 91224 R-ID Elok

