Repelita Jakarta - Eks Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menyampaikan rasa bangganya terhadap sikap kritis yang ditunjukkan Ketua BEM UGM Tiyo Adrianto yang belakangan menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat.
Mahfud secara tegas mengungkapkan apresiasi mendalam atas keberanian mahasiswa tersebut dalam menyuarakan pandangan terhadap kebijakan pemerintah.
Pernyataan itu disampaikan Mahfud melalui kanal YouTube Mahfud MD Official yang dikutip pada Jumat 27 Februari 2026.
Ia mengenang pertemuan langsung dengan Tiyo saat Komisi Percepatan Reformasi Polri melakukan audiensi di Universitas Gadjah Mada pada Desember 2025.
Dalam interaksi tersebut Mahfud menilai Tiyo mampu menyampaikan gagasan secara logis berlandaskan data serta tetap menjaga etika dalam berdiskusi.
Mahfud menekankan bahwa keberanian generasi muda untuk mengemukakan argumen berdasarkan fakta seharusnya mendapat perlindungan dari negara bukan justru menghadapi tekanan atau intimidasi.
Ia menilai anak muda yang berani seperti Tiyo merupakan bibit pemimpin masa depan yang pernah membawa perubahan besar bagi bangsa.
Menurut Mahfud jika generasi berani tersebut tidak dibina malah diteror termasuk terhadap keluarganya maka kondisi negara akan menjadi tidak sehat.
Mahfud juga menyentil fenomena saling bantah dan lempar tanggung jawab yang sering muncul ketika ada dugaan teror terhadap Tiyo.
Ia menyatakan bahwa dalam kasus semacam itu pihak-pihak terkait kerap saling menyangkal termasuk pemerintah maupun buzzer bayaran yang mengklaim tidak terlibat.
Mahfud menegaskan bahwa siapa pelakunya sulit diketahui secara pasti karena tidak ada bukti langsung yang mengarah ke pemerintah.
Ia menambahkan bahwa perubahan dalam kehidupan bernegara merupakan hal yang tak terelakkan dan kritik menjadi bagian integral dari dinamika demokrasi.
Oleh karena itu semua pihak diminta bertindak bertanggung jawab tanpa menyalahgunakan kekuasaan atau bertindak sewenang-wenang.
Sebelumnya Tiyo Adrianto menuai sorotan setelah secara terbuka mengkritik program Makan Bergizi Gratis yang digagas Presiden Prabowo Subianto.
Dalam sebuah podcast Tiyo mengenakan kaos bertuliskan MBG sama dengan maling berkedok gizi dan menyebut program itu sebagai tipu-tipu.
Menurut Tiyo label gratis pada MBG menyesatkan karena pembiayaannya bersumber dari APBN yang pada hakikatnya merupakan uang rakyat.
Ia menegaskan bahwa program tersebut sebenarnya merupakan hak masyarakat bukan pemberian cuma-cuma dari pemerintah.
Tiyo juga menyoroti wacana penggunaan dana pendidikan untuk mendanai MBG meskipun BEM UGM tidak menolak program secara keseluruhan.
Ia menyatakan bahwa upaya pengentasan stunting tetap penting namun bentuk pelaksanaan MBG yang ugal-ugalan dan berpotensi membuka celah korupsi menjadi sasaran kritik utama.
Tiyo menilai program itu lebih mendekati investasi politik demi kemenangan elektoral daripada benar-benar untuk kesejahteraan rakyat.
Ia bahkan menyebut MBG berisiko menjadi korupsi yang tersistematis dan dilegalkan melalui mekanisme tertentu.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

