:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/hilmi-firdausi.jpg)
Repelita Jakarta - Cendekiawan Nahdlatul Ulama Gus Hilmi Firdausi mengemukakan pandangan kritis terhadap rencana penyaluran Program Makan Bergizi Gratis selama bulan Ramadan.
Ia mempertanyakan efektivitas kebijakan tersebut terutama bagi umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa.
Gus Hilmi menilai bahwa pembagian makanan kering kepada penerima manfaat yang berpuasa justru menimbulkan persoalan baru di tengah masyarakat.
Menurutnya Ramadan dan Idulfitri merupakan momentum berbagi yang sudah sangat kuat mengakar sehingga bantuan makanan mudah ditemukan di berbagai tempat.
Gus Hilmi menyarankan agar pelaksanaan MBG dihentikan sementara selama tiga puluh hari puasa ditambah tujuh hingga empat belas hari libur Lebaran.
Ia memperkirakan penghentian sementara tersebut dapat menghemat anggaran sekitar satu koma dua triliun rupiah.
Dana yang tidak tersalurkan selama periode tersebut menurutnya dapat dialihkan ke program lain yang lebih mendesak dan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat luas.
Gus Hilmi menyatakan bahwa di negeri ini puasa dan Lebaran merupakan bulan berbagi sehingga makanan gratis dapat dengan mudah dijumpai di mana-mana selama Ramadan.
Ia mempertanyakan konsep makanan kering bergizi yang direncanakan dengan nada skeptis mengenai bentuk dan manfaatnya bagi yang berpuasa.
Gus Hilmi menegaskan bahwa pelaksanaan program pemerintah harus tetap memperhatikan konteks sosial budaya dan kearifan lokal termasuk kondisi keagamaan masyarakat.
Ia mengingatkan agar tidak ada pemaksaan hanya karena program harus terus berjalan tanpa mempertimbangkan situasi yang ada.
Sementara itu pemerintah memastikan Program Makan Bergizi Gratis tetap dilaksanakan selama bulan Ramadan dengan sejumlah penyesuaian khusus.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyatakan keputusan tersebut telah disepakati dalam rapat koordinasi tingkat tinggi.
Ia menjelaskan bahwa anak sekolah tetap masuk seperti biasa namun jenis makanan yang dibagikan akan disesuaikan bagi yang berpuasa.
Zulkifli Hasan menyatakan bahwa siswa Muslim di sekolah umum akan menerima makanan kering sementara siswa yang tidak puasa tetap mendapatkan layanan normal.
Ia menambahkan bahwa untuk pesantren waktu penyaluran akan digeser ke sore hari saat buka puasa tanpa mengubah skema secara keseluruhan.
Zulkifli Hasan menegaskan bahwa kelompok sasaran lain seperti balita ibu hamil dan ibu menyusui tetap menerima MBG tanpa perubahan apa pun.
Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana memaparkan contoh menu MBG selama Ramadan yang tetap memperhatikan aspek gizi.
Ia menyebutkan menu tersebut mencakup kurma telur rebus atau telur asin atau telur pindang buah serta susu dan abon.
Dadan menjelaskan bahwa bagi daerah mayoritas siswa berpuasa makanan akan dibagikan pada siang hari untuk dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka.
Ia menegaskan bahwa bagi daerah mayoritas tidak berpuasa pelayanan MBG tetap berjalan normal seperti biasa.
Dadan juga merespons isu viral di media sosial terkait dugaan seorang anak tidak mendapat jatah setelah orang tuanya mengkritik menu.
Ia menyatakan bahwa BGN terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat serta mengapresiasi setiap pengawasan dari publik.
Dadan menekankan bahwa teguran dari masyarakat justru menjadi perbaikan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi agar lebih baik ke depan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

