Repelita Tel Aviv - Dua tentara wanita dari Pasukan Pertahanan Israel dikejar oleh sekelompok pria Haredi di kota Bnei Brak sebelum akhirnya berhasil dievakuasi oleh petugas polisi setempat.
Kedua tentara wanita tersebut bertugas di Korps Pendidikan dan Pemuda dan sedang berada di kota ultra-Ortodoks itu dalam rangka kunjungan ke rumah salah satu rekan mereka.
Mereka bukan bagian dari Polisi Militer seperti yang diklaim oleh beberapa pihak sehingga insiden ini menjadi sorotan karena melibatkan warga sipil terhadap personel militer.
Rekaman yang menyebar di media sosial memperlihatkan kedua wanita tersebut berlari sambil dikawal polisi sementara kerumunan besar pria terus mengejar mereka di sepanjang jalan.
Dalam kekacauan tersebut tempat sampah terguling dan sebuah mobil polisi dibalik oleh kelompok perusuh yang mengikuti para tentara wanita itu.
Polisi menyatakan bahwa situasi kini telah terkendali setelah kedua tentara wanita berhasil dievakuasi dari area tersebut tanpa cedera serius.
Insiden ini memicu kecaman dari para politisi oposisi yang menganggapnya sebagai aib nasional dan menuntut respons segera dari anggota parlemen Haredi.
Pemimpin Oposisi Yair Lapid bertanya siapa yang lebih diprioritaskan oleh Netanyahu apakah tentara negara atau mitra koalisinya dalam pemerintahan.
Ia menambahkan bahwa harus ada gelombang penangkapan dalam waktu dekat karena tidak boleh ada serangan terhadap tentara IDF dan polisi di Negara Israel.
Yair Lapid menegaskan bahwa siapa pun yang terlibat dalam serangan terhadap tentara harus segera ditahan untuk mengakhiri anarki yang sedang terjadi.
Ketua Partai Demokrat Yair Golan mengutuk insiden tersebut sebagai bentuk hasutan terhadap dinas militer di IDF serta kebencian terhadap para tentara.
Menurutnya tanggung jawab penuh berada pada kepemimpinan Haredi yang mendapat dukungan penuh dari perdana menteri sehingga menciptakan situasi seperti ini.
Ketua partai Yashar Gadi Eisenkot menyatakan bahwa pihak yang menghindari dinas militer justru menyerang mereka yang sedang melayani negara.
Ia mengingatkan bagaimana pasukan IDF pernah membantu penduduk Bnei Brak selama masa sulit krisis COVID di masa lalu.
Komunitas Haredi selama ini menolak kewajiban militer yang diterapkan oleh pemerintahan Zionis terutama jika diatur dalam bentuk undang-undang formal.
Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir mengutuk keras serangan massa terhadap dua prajurit wanita di kota ultra-Ortodoks Bnei Brak.
Dalam pernyataan resmi IDF menyatakan bahwa Zamir memandang insiden itu dengan sangat serius dan mengutuk serangan terhadap tentara IDF yang sedang menjalankan tugas militer.
Setiap tindakan yang membahayakan tentara IDF oleh warga sipil Israel dianggap sebagai pelanggaran serius dan harus ditindak tegas terhadap para pelaku.
Zamir menambahkan bahwa ia mengharapkan para penyerang segera dibawa ke pengadilan untuk diproses secara hukum.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

