
Repelita Monterrey - Model Gabriela Richo Jiménez dinyatakan hilang dari peredaran publik setelah mengungkap praktik ritual kanibal yang dilakukan kalangan elit global dalam kasus Jeffrey Epstein.
Perempuan berusia 21 tahun itu pertama kali menarik perhatian dunia saat berteriak histeris di luar Hotel Fiesta Inn, Monterrey, Meksiko, pada awal Agustus 2009.
Tanpa alas kaki dan hanya mengenakan kaos merah yang sudah robek, ia melontarkan tuduhan mengerikan tentang pembunuhan ritual dan praktik memakan daging manusia di lingkungan orang-orang superkaya.
Nama-nama besar dunia seperti Presiden Meksiko Felipe Calderón, taipan Carlos Slim, mantan Presiden AS George W. Bush, dan Ratu Elizabeth II disebut secara gamblang dalam teriakannya.
“Mereka memakan manusia! Menjijikkan! Manusia! Bau seperti daging manusia!” pekiknya disaksikan puluhan pengunjung hotel dan warga sekitar.
“Aku tahu tentang pembunuhan, tapi memakan manusia?!” lanjutnya dengan ekspresi wajah yang diliputi ketakutan luar biasa.
Kejadian itu segera direspons aparat kepolisian yang tiba di lokasi dalam waktu singkat.
Alih-alih memprosesnya sebagai saksi kunci atas dugaan kejahatan berat, Gabriela langsung digiring ke sebuah rumah sakit jiwa.
Narasi resmi yang dikonstruksi saat itu menyatakan model muda tersebut mengalami gangguan mental akut atau kemungkinan berada di bawah pengaruh narkotika.
Sejak pintu rumah sakit jiwa itu tertutup, Gabriela Richo Jiménez lenyap tak berbekas.
Tidak ada satu pun dokumen medis yang dapat diakses publik mengenai perawatan atau kondisi kesehatannya.
Keheningan yang mencekam justru datang dari pihak keluarga yang tidak pernah melaporkan kasus orang hilang ke kepolisian Meksiko.
Hingga tahun 2026, tidak ada informasi valid apakah Gabriela masih bernapas di suatu tempat atau telah tiada untuk selamanya.
Kasus ini sempat menguap ditelan hiruk-pikuk pemberitaan lain yang dianggap lebih penting oleh media arus utama.
Namun pengungkapan dokumen Jeffrey Epstein bertahun-tahun kemudian mengubah segalanya secara dramatis.
Berkas pengadilan yang dibuka untuk publik mengonfirmasi keberadaan jaringan perdagangan manusia dengan lingkaran elit global sebagai aktor utamanya.
Kesaksian para korphan selamat mengungkap praktik penyiksaan, kekerasan seksual, dan berbagai bentuk kekejaman lain yang melampaui batas nalar.
Tidak sedikit kesaksian yang mengindikasikan praktik ritual mengerikan termasuk dugaan tindakan kanibalisme di pesta-pesta tertutup kalangan superkaya.
Dalam konteks inilah teriakan Gabriela di Monterrey menemukan makna barunya yang tragis.
Apa yang dulu dianggap sebagai delirium orang sakit jiwa kini tampak sebagai laporan saksi mata yang jujur dan mengerikan.
Gabriela bukan sekarat karena halusinasi akibat zat psikotropika.
Ia kemungkinan besar menyaksikan adegan yang tidak seharusnya dilihat manusia biasa lalu dibungkam secara sistematis dengan cara yang sangat licin.
Label gangguan mental terbukti menjadi alat efisien untuk mendiskreditkan sekaligus memusnahkan jejak seorang saksi kunci.
Kasus Gabriela Richo Jiménez yang berkelindan dengan jaringan Epstein bukan lagi sekadar teori konspirasi liar.
Ini adalah kisah nyata tentang bagaimana peradaban modern menyembunyikan sisi gelapnya dalam lembaran diagnosis psikiatri dan keheningan institusi negara.
Realitas yang diungkap Gabriela malam itu, meski dibungkam paksa, pada akhirnya menemukan pembuktian pahit dari berkas-berkas Epstein yang membuka mata dunia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

