
Repelita Yogyakarta - Ketua BEM Universitas Gadjah Mada Tiyo Ardianto menyatakan organisasi mahasiswa tersebut memilih untuk tidak melaporkan serangkaian teror digital yang menimpa dirinya serta lebih dari empat puluh pengurus lainnya ke pihak kepolisian.
Keputusan itu diambil karena semakin dalamnya ketidakpercayaan terhadap institusi Polri pasca insiden kekerasan di Tual yang menewaskan seorang siswa oleh anggota Brimob pada 19 Februari 2026.
Tiyo menjelaskan bahwa kejadian baru-baru ini di mana seorang polisi membunuh anak bangsa membuat pihaknya ragu untuk menyerahkan kasus teror kepada aparat penegak hukum.
Teror digital yang berasal dari nomor tak dikenal tidak hanya menyasar Ketua BEM UGM melainkan juga melibatkan orang tua pengurus sebagai korban tambahan.
Meskipun demikian Tiyo menegaskan bahwa serangan tersebut masih terbatas pada ranah digital sehingga belum menimbulkan dampak fisik maupun psikologis yang berarti bagi para korban.
Ia justru menilai teror ini tidak layak menyita waktu dan energi pengurus BEM UGM karena dampaknya masih minim.
Lebih lanjut Tiyo menyampaikan bahwa kejadian tersebut malah mempererat solidaritas dan persaudaraan di kalangan pengurus organisasi mahasiswa tersebut.
Teror justru menjadi pemicu yang membuat ikatan antar pengurus semakin kuat dan solid dalam menghadapi berbagai tantangan.
BEM UGM telah berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban serta Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik serta pihak universitas terkait rentetan ancaman yang terjadi.
Meski mendapat dorongan kuat untuk menempuh jalur hukum pengurus tetap memprioritaskan peran mereka sebagai pengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil.
Tiyo menegaskan komitmen untuk terus melawan segala bentuk ketidakadilan serta menindas rakyat melalui kritik yang konsisten.
Ia menduga adanya kemungkinan penyusupan dari pihak tertentu ke dalam kepengurusan BEM UGM yang beranggotakan sekitar enam ratus mahasiswa ditambah relawan hampir seribu orang.
Ketidakjelasan motif teror yang hanya menargetkan sekitar empat puluh pengurus membuat pihaknya masih melakukan penelusuran penyebab utama.
Tiyo mewaspadai bahwa data dari grup WhatsApp besar organisasi mungkin bocor sehingga memudahkan pelaku mengidentifikasi target.
Ia mengakui proses pelacakan pelaku sangat sulit mengingat jumlah anggota grup yang besar dan keterbatasan waktu yang dimiliki.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

