
Repelita Washington DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras terhadap Iran dengan mengancam akan melancarkan serangan militer yang jauh lebih brutal. Pernyataan yang disampaikan pada Rabu 28 Januari 2026 tersebut meminta pemerintah Iran segera datang ke meja perundingan untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklir. Trump menegaskan bahwa waktu yang tersedia bagi Teheran semakin mendesak dan situasi memerlukan tindakan segera.
Melalui media sosial, Trump menyatakan harapannya agar Iran bersedia bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan yang adil dan seimbang tanpa melibatkan senjata nuklir. Dia menekankan bahwa kesepakatan tersebut harus menguntungkan semua pihak yang terlibat. Ancaman serangan yang lebih parah disampaikan sebagai peringatan terakhir sebelum kemungkinan eskalasi militer yang tidak diinginkan terjadi antara kedua negara.
"Semoga Iran segera 'Datang ke Meja Perundingan' dan bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan yang adil dan seimbang, TANPA SENJATA NUKLIR, yang menguntungkan semua pihak. Waktu terus berjalan, situasi sangat mendesak!" tulis Trump dalam unggahannya. Dia menambahkan peringatan eksplisit bahwa serangan berikutnya akan jauh lebih parah jika kesepakatan tidak tercapai dalam waktu dekat. Pernyataan ini semakin menguatkan ketegangan yang sudah berlangsung antara Washington dan Teheran.
Trump juga mengungkapkan bahwa kekuatan laut Amerika Serikat yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln saat ini tengah bergerak mendekati wilayah Iran. Dua pejabat Amerika Serikat mengonfirmasi pada hari Senin bahwa kapal induk tersebut beserta sejumlah kapal pendukungnya telah tiba di kawasan Timur Tengah. Armada tempur ini mulai bergerak dari wilayah Asia-Pasifik pekan lalu seiring meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
Ketegangan AS-Iran semakin memanas akibat respons keras pemerintah Iran terhadap aksi protes dalam negeri yang terjadi beberapa waktu terakhir. Trump telah berulang kali mengancam akan melakukan intervensi militer dan menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengambil tindakan jika Teheran kembali melanjutkan program nuklirnya. Peningkatan kekuatan militer Amerika Serikat di Timur Tengah menjadi indikator keseriusan ancaman yang disampaikan.
Presiden Amerika Serikat tersebut mengingatkan bahwa peringatan terakhirnya sebelumnya berujung pada serangan militer pada bulan Juni tahun lalu. Dia juga menyinggung keputusannya menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir tahun 2015 dengan Iran selama masa jabatan pertamanya. Kebijakan tersebut menjadi awal dari ketegangan yang berlanjut hingga saat ini antara kedua negara dengan sejarah konflik yang panjang.
Sementara itu, Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyatakan melalui media sosial bahwa setiap langkah militer yang diambil Amerika Serikat akan membuat Iran menargetkan kepentingan AS, Israel, serta pihak-pihak yang mendukungnya. Pernyataan ini menunjukkan kesiapan Iran untuk membalas setiap agresi yang dilakukan terhadap kedaulatannya. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi juga menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran berada dalam kondisi siaga penuh.
"Angkatan bersenjata Iran siap siaga dengan jari di pelatuk untuk segera dan dengan kekuatan penuh merespons SETIAP agresi," tulis Araqchi dalam pernyataannya. Dia menambahkan bahwa Iran tetap terbuka terhadap kesepakatan nuklir yang saling menguntungkan, adil, dan setara tanpa paksaan, ancaman, maupun intimidasi. Kesepakatan tersebut harus menjamin hak Iran atas teknologi nuklir untuk tujuan damai sekaligus memastikan tidak adanya pengembangan senjata nuklir.
Araqchi sebelumnya menyebutkan bahwa dirinya tidak menjalin komunikasi dengan utusan khusus Amerika Serikat Steve Witkoff dan tidak mengajukan permintaan perundingan apapun. Pernyataan ini disampaikan melalui media pemerintah Iran sebagai bentuk penegasan bahwa Teheran tidak sedang dalam proses negosiasi rahasia dengan Washington. Situasi ini menunjukkan jalan buntu dalam diplomasi antara kedua negara yang sudah berlangsung lama.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyebutkan bahwa pemerintah Iran saat ini berada dalam kondisi sangat lemah dengan ekonomi yang runtuh. Dia memperkirakan bahwa aksi protes akan kembali muncul di Iran akibat kondisi ekonomi yang semakin memburuk. Pejabat Amerika Serikat lainnya menyatakan bahwa Trump belum mengambil keputusan final mengenai serangan militer namun menilai melemahnya posisi pemerintah Iran memberikan keuntungan strategis.
Keuntungan strategis tersebut dapat digunakan Amerika Serikat untuk mendorong kesepakatan denuklirisasi dan penyelesaian isu-isu lain yang menjadi kepentingan Washington. Uni Eropa dilaporkan sedang mempersiapkan langkah untuk memasukkan Garda Revolusi Iran ke dalam daftar organisasi teroris. Prancis telah menyatakan dukungannya terhadap langkah tersebut pada hari Rabu, menambah tekanan internasional terhadap Iran.
Para menteri luar negeri Uni Eropa akan bertemu di Brussels pada hari Kamis dan diperkirakan akan menyetujui sanksi baru atas tindakan keras Iran terhadap aksi protes dalam negeri. Langkah ini semakin mengisolasi Iran di kancah internasional dan membatasi ruang gerak pemerintah Teheran dalam menghadapi berbagai tekanan. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus berlanjut dengan potensi eskalasi yang semakin besar jika tidak ada terobosan diplomasi.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

