Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Program MBG Disoroti: Siswa Dapat Makan Bergizi, Tapi Guru Hidup Merana, CELIOS Sebut Pendidikan Makin Masuk “Kuburan”

 

Repelita Jakarta - Direktur dan Pendiri Lembaga Penelitian Independen CELIOS Bhima Yudhistira menyampaikan keprihatinan mendalam terkait pengangkatan pegawai SPPG.

Keprihatinan ini muncul di tengah sorotan publik terhadap program Makan Bergizi Gratis yang dicanangkan pemerintah.

Menurut Bhima Yudhistira terdapat paradoks yang mencolok antara program tersebut dengan kondisi para tenaga pendidik.

"Jadi MBG yang diberikan kepada para siswa tapi gurunya hidup merana," kata Bhima Yudhistira dikutip dari akun Instagram pada hari Sabtu tanggal dua puluh empat Januari.

Dia mempertanyakan tujuan sebenarnya yang ingin dicapai melalui program strategis Presiden Prabowo Subianto tersebut.

"Ini kan paradoks ya apa yang mau dicapai sebenarnya kita nggak habis pikir sebenarnya," ucapnya dengan nada prihatin.

Banyak guru menjadi korban dari kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan dalam berbagai program pendidikan.

Kondisi ini semakin memprihatinkan karena sebagian guru sejak awal memang belum mencapai tingkat kesejahteraan yang layak.

"Apa yang mau dicapai dari Makan Bergizi Gratis yang bahkan masih banyak guru menjadi korban dari efisiensi anggaran atau sebelumnya memang dia tidak sejahtera masuk kategori prasejahtera," ungkapnya.

Bhima Yudhistira menyoroti fakta bahwa masih banyak guru yang harus mengandalkan bantuan sosial untuk memenuhi kebutuhan hidup.

"Berapa banyak guru yang masih menerima bansos itu kan artinya ini yang harus ditolong dulu," tambahnya dengan tegas.

Menurutnya realitas tersebut jika diabaikan maka program Makan Bergizi Gratis menjadi tidak adil bagi para pendidik.

"Tapi kalau ini kemudian mau dilompati atas nama program kampanye yang namanya MBG saya kira ini tidak adil," imbuhnya.

Dia memperingatkan bahwa kondisi ini justru dapat mempergelap masa depan pendidikan Indonesia ke depan.

"Saya kira kita sedang memupuk kuburan untuk pendidikan yang makin gelap ke depannya," pungkas Bhima Yudhistira.

Situasi ini menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam sistem pendidikan yang belum terselesaikan dengan baik.

Penulis ternama Indonesia Tere Liye juga menyampaikan cerita serupa melalui akun media sosial pribadinya.

Dia menceritakan tentang seorang guru honorer bernama Mawar yang merupakan pendukung setia pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Sejak tahun dua ribu dua puluh empat Mawar aktif menjadi relawan dan mendukung penuh setiap program pemerintah.

Dia selalu memposting komentar dan membela program Makan Bergizi Gratis di berbagai platform media sosial.

Namun saat ini Mawar justru termangu melihat kenyataan yang dihadapinya sebagai guru honorer bertahun-tahun.

Meski telah berkali-kali mengikuti tes seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil dia selalu gagal dalam proses tersebut.

Sementara orang lain justru dapat dengan mudah menyalip dan menjadi aparatur sipil negara melalui program pengangkatan baru.

Mawar bertanya apakah situasi seperti ini dapat dikategorikan sebagai perlakuan yang adil bagi para guru honorer.

Tere Liye menjawab dengan kalimat singkat bahwa Mawar seharusnya memikirkan konsekuensi dari dukungan yang diberikan sebelumnya.

"Ya ndak tahu kok tanya saya Mawar kamu yang joget joget dulu kok saya yang disuruh mikir," tutup penulis tersebut.

Kisah ini menggambarkan kompleksitas persoalan yang dihadapi oleh para guru honorer di tengah berbagai program pemerintah.

Kesejahteraan pendidik menjadi isu krusial yang memerlukan perhatian serius dari semua pemangku kepentingan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved