
Repelita Caracas - Presiden Venezuela Nicolás Maduro menyampaikan orasi tegas pada Oktober 2024 yang menunjukkan dukungan kuatnya terhadap perjuangan Palestina sekaligus kecaman keras atas tindakan Israel.
Pernyataan itu disiarkan melalui program televisi nasional Con Maduro+ yang berlangsung bertepatan dengan memperingati satu tahun konflik antara Israel dan Hamas.
Dalam pidato yang berlangsung hampir tiga jam tersebut, Maduro menggambarkan upaya pembebasan Palestina sebagai perjuangan paling krusial dalam catatan sejarah manusia.
Ia menyangkal versi sejarah yang diajukan Israel serta menegaskan bahwa wilayah Palestina telah ada sejak lama sebelum pendirian negara Israel kontemporer.
“Palestina selalu menjadi Palestina. Pertempuran terpenting dalam sejarah umat manusia adalah pembebasan Palestina dan pembebasan Yerusalem,” ucap Maduro pada kesempatan itu.
Maduro juga mengulangi pernyataan yang memicu perdebatan dengan menyebut Yesus Kristus sebagai seorang Palestina serta menekankan Yerusalem sebagai pusat spiritual bagi umat Yahudi, Kristen, dan Islam.
Ia menuduh Israel melakukan pembantaian secara massal terhadap penduduk sipil Palestina.
Maduro mengkritik habis-habisan media global yang menggambarkan situasi di Gaza hanya sebagai konfrontasi dengan Hamas, bukan serangan terhadap seluruh rakyat Palestina.
Menurut pandangannya, penyajian seperti itu telah menyembunyikan jumlah korban sipil yang sangat tinggi.
Ia mempertanyakan apakah ribuan anak-anak dan wanita yang menjadi korban bombardir Israel bisa dikategorikan sebagai anggota kelompok bersenjata.
Maduro pun menyoroti kerusakan luas di sebagian besar kawasan Gaza sebagai bukti bahwa operasi tersebut bukan sekadar tindakan militer terbatas, melainkan upaya pemusnahan.
Pada pidato tahun 2024 tersebut, Maduro menganggap perang di Gaza sebagai konflik paling kejam sejak masa Nazi serta memperingatkan potensi perluasan pertempuran ke Lebanon, Suriah, dan Iran.
Ia juga menyayangkan kegagalan Mahkamah Internasional dalam menghentikan aksi kekerasan terhadap warga Palestina.
Selain menargetkan Israel, Maduro secara gamblang mengecam Zionisme yang ditudingnya sebagai inisiatif kolonial dari Barat yang bergantung pada kekuatan ekonomi, teknologi, serta jaringan politik internasional.
Ia menghubungkan Zionisme dengan pengaruh dominan negara-negara Barat dan bahkan mengaitkannya dengan kekuatan politik di balik musuh-musuhnya di Venezuela.
Maduro turut menyebut adanya darah keturunan Yahudi dalam silsilah keluarganya serta menyatakan bahwa konflik di Gaza harus diakhiri demi alasan kemanusiaan.
Meski demikian, pernyataan dukungan dari kalangan Yahudi Venezuela terhadap ucapannya saat itu dibantah oleh beberapa tokoh komunitas terkait.
Orasi keras Maduro di tahun 2024 semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu kepala negara yang paling lantang membela Palestina dan menentang Israel.
Sikap tersebut sekaligus memperburuk hubungan diplomatik Venezuela dengan Israel beserta mitra-mitra Baratnya di tengah konflik Timur Tengah yang terus berlanjut hingga saat ini.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

