Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

[HEBOH] Masih Ingat Mbak Rara, Pawang Hujan Mbak Rara Diusir Saat Upacara Labuhan Keraton Yogyakarta

 

Repelita Bantul - Kehadiran sosok fenomenal pawang hujan Rara Istiati Wulandari atau Mbak Rara di Pantai Parangkusumo menuai perhatian.

Mbak Rara tampil dengan busana yang sangat mirip dengan seragam resmi para abdi dalem Keraton Yogyakarta pada upacara Labuhan.

Dia mengenakan kebaya berwarna hitam yang dipadukan dengan kain batik serta riasan wajah dan sanggul khas abdi dalem.

Penampilannya tersebut sulit dibedakan dengan para pelayan keraton yang sedang bertugas dalam prosesi sakral tersebut.

Padahal keterlibatannya sama sekali tidak termasuk dalam struktur resmi upacara tradisional yang dilaksanakan keraton.

Mbak Rara terlihat terlibat dalam perdebatan dengan sejumlah abdi dalem di lokasi pelaksanaan ritual Labuhan.

Dia kemudian diminta untuk meninggalkan area inti prosesi secara halus saat upacara sedang berlangsung dengan khidmat.

Menanggapi insiden yang beredar luas di media sosial pihak Keraton Yogyakarta memberikan penjelasan resmi.

Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura GKR Condrokirono menegaskan bahwa seluruh rangkaian upacara merupakan wewenang internal keraton.

Putri kedua Sri Sultan Hamengku Buwono X tersebut menyatakan bahwa pelaksanaan hajat dalem merupakan tanggung jawab abdi dalem.

Meskipun acara Labuhan bersifat terbuka bagi masyarakat umum untuk menyaksikan terdapat batasan etika yang harus dipatuhi.

Masyarakat diharapkan dapat menjaga ketenangan dan ketertiban demi menjaga kesakralan seluruh rangkaian prosesi adat.

Terkait keterlibatan pihak luar seperti yang dilakukan oleh Mbak Rara prosedur perizinan menjadi syarat mutlak.

Setiap perorangan atau lembaga yang ingin terlibat dalam agenda keraton harus mendapatkan izin dari pihak berwenang.

Peristiwa ini menjadi sorotan tajam karena Labuhan Parangkusumo tahun ini merupakan bagian peringatan penting.

Upacara tersebut termasuk dalam rangkaian peringatan Jumenengan Dalem atau bertahtanya Sri Sultan Hamengku Buwono X ke tiga puluh delapan.

Tahun ini jatuh pada Tahun Dal dalam siklus penanggalan Jawa sehingga prosesi dilakukan secara lebih lengkap.

Ritual meliputi Pantai Parangkusumo Gunung Merapi Gunung Lawu hingga Dlepih di Kabupaten Wonogiri.

Kesakralan upacara menjadi perhatian utama mengingat makna filosofis dan historis yang sangat dalam bagi masyarakat Jawa.

Pelanggaran terhadap tata tertib dan etika dalam prosesi adat dapat mengurangi nilai spiritual yang dijaga turun temurun.

Keraton Yogyakarta sebagai institusi budaya terus berupaya melestarikan tradisi dengan menjaga kemurnian pelaksanaannya.

Masyarakat diharapkan dapat menghormati setiap aturan dan tata cara yang berlaku dalam kegiatan adat keraton.

Insiden ini mengingatkan pentingnya komunikasi dan koordinasi sebelum terlibat dalam kegiatan budaya yang memiliki aturan ketat.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved