Repelita Jakarta – Isu mengenai perilaku menjilat penguasa demi jabatan kembali menjadi sorotan publik setelah Komisaris Pertamina, Hasan Nasbi, secara terbuka mengaku menjilat demi kekuasaan.
Pernyataan tersebut memicu berbagai tanggapan, termasuk dari pegiat media sosial Chusnul Chotimah.
Chusnul menilai bahwa tetap menjilat penguasa meski mengetahui posisi penguasa tersebut tidak benar adalah tindakan yang tidak waras.
Ungkapan itu disampaikan Chusnul sebagai respons terhadap komentar politikus Partai Demokrat, Cipta Panca Laksana.
Melalui akun media sosialnya, Cipta Panca menyebut Chusnul sebagai mantan pemuja Presiden Jokowi.
Dulu loe juga pemuja Jokowi Nul 😝😝 (2 Oktober 2025)
Komentar tersebut muncul setelah Chusnul mengunggah kritik terhadap pertemuan Jokowi dengan mantan terpidana kasus terorisme, Abu Bakar Ba'asyir.
Dalam unggahannya, Chusnul menyindir perubahan sebutan terhadap ABB dari teroris menjadi ustadz setelah bertemu Jokowi.
Sebagai tanggapan atas tudingan tersebut, Chusnul memberikan analogi mengenai perubahan sikap seseorang terhadap orang yang dulunya disayang.
Dulu ibu maling Kundang begitu sayang anaknya, anaknya durhaka, dia kutuk. (2 Oktober 2025)
Ia juga menyinggung bagaimana seorang istri bisa berubah drastis terhadap suaminya yang berkhianat.
Dulu seorang istri begitu memuja suaminya, tapi saat suaminya berkhianat, dia berubah jadi benci bahkan ada yg bakar suaminya hidup2. (2 Oktober 2025)
Chusnul menegaskan bahwa perubahan sikap terhadap seseorang yang telah menunjukkan kebusukan adalah hal yang wajar.
Berubah krn seseorang busuk itu waras, yg ga waras itu ttp menjilat. (2 Oktober 2025)
Editor: 91224 R-ID Elok

