
Repelita Jakarta - Jhon Sitorus, mantan pengamat sepak bola, menyampaikan kritik tajam terhadap Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, terkait kebiasaannya yang terlalu sering memasuki ruang ganti pemain.
Menurut Sitorus, tindakan Erick tersebut dapat mengganggu konsentrasi dan etika kerja tim nasional Indonesia.
"Bukan pelatih, bukan kapten, bukan direktur teknik, tetapi Erick Thohir selalu rajin masuk ruang ganti pemain setiap pertandingan. Apakah ini tidak membuat pemain, pelatih, dan asisten merasa risih?" kata Sitorus dalam keterangannya.
Ia menambahkan bahwa di negara-negara dengan tradisi sepak bola yang kuat seperti Eropa dan Amerika Latin, kepala federasi sepak bola sangat jarang memasuki ruang ganti pemain, apalagi memberikan arahan yang bisa dianggap sebagai intervensi.
Sitorus juga mempertanyakan apa yang mungkin dirasakan oleh pemain naturalisasi seperti Marten Paes, Jordi Amat, dan Ivar Jenner.
"Mungkin mereka bertanya dalam hati, 'Woi, ngapain lo di sini terus, mau cari muka?'" ujarnya.
Sitorus lebih jauh menyoroti potensi dampak dari keberadaan Erick Thohir yang berpotensi menciptakan "dua matahari" dalam tim, yaitu arahan dari pelatih kepala Shin Tae-yong (STY) dan Erick sebagai Ketua PSSI.
"Pemain seolah-olah harus mempertimbangkan arahan siapa yang harus diikuti. Ini bisa memecah fokus mereka," tambahnya.
Selain itu, Sitorus mengkritik Erick yang juga menjabat sebagai Menteri BUMN. Ia menyebut tindakan merangkap jabatan seperti ini mencerminkan sikap yang jauh dari prinsip sportivitas.
"Sikap rakus seperti ini saja sudah jauh dari prinsip sportmanship. Lalu, kita berharap apa dari bagian dari penguasa yang rakus dan egois?" tegasnya.
Menurut Jhon Sitorus, intervensi yang terlalu sering justru dapat merusak dinamika tim dan membahayakan tujuan utama federasi. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok

