
Repelita Jakarta - Pencitraan yang selama ini melambungkan sosok Jokowi menjadi sorotan tajam setelah OCCRP memasukannya dalam daftar finalis pemimpin paling korup dunia.
Pengamat politik Rocky Gerung menilai bahwa pemujaan berlebihan terhadap Jokowi telah mencapai batasnya dan justru berbalik menjadi bumerang.
“Pemujaan selalu ada batasnya. Kalau memuji, masih bolehlah, tapi memuja akhirnya tersusul oleh fakta,” ujarnya.
Menurut Rocky, sejak awal pemerintahan Jokowi, pencitraan yang mengesankan kesuksesan besar dibangun dengan dukungan lembaga survei, influencer, dan buzzer.
Namun, pemujaan ini justru menjadi kelemahan, karena hanya menciptakan citra yang rapuh dan mudah runtuh ketika dihadapkan pada kenyataan.
Rocky Gerung menyebut fenomena ini sebagai "efek Pygmalion," merujuk pada kisah seorang pematung yang jatuh cinta pada patung buatannya sendiri.
Pemujaan semacam ini, membuat Jokowi terjebak dalam narasi yang diciptakan oleh lingkungannya sendiri.
Ketika pencitraan tersebut mulai dihancurkan oleh penilaian internasional, upaya untuk mempertahankannya justru menjadi kontraproduktif.
Rocky Gerung mengkritik lembaga survei yang menurutnya berperan besar dalam membangun citra Jokowi sebagai pemimpin yang populer.
Survei yang menunjukkan tingkat kepuasan publik tinggi dinilai tidak mencerminkan realitas dan hanya digunakan untuk memanipulasi persepsi masyarakat.
Selain itu, peran buzzer dan influencer yang terus mengangkat nama Jokowi di media sosial kini dinilai kehilangan efektivitasnya. Sebaliknya, mereka justru dianggap menjadi bagian dari sistem yang menciptakan dan kemudian menjatuhkan citra Jokowi.
Rocky Gerung menyoroti bagaimana pandangan internasional terhadap Jokowi mengalami perubahan drastis.
“Jokowi dibusukkan oleh sistemnya sendiri, dibusukkan oleh lembaga survei, dibusukkan oleh influencer, dan seterusnya,” tegasnya.
Majalah 'Time', yang pernah menyebut Jokowi sebagai "The New Hope," kini berubah menjadi kritik. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok

