Repelita [Jakarta] - Mantan Ketua Komisi Informasi Provinsi DKI Jakarta periode 2012 hingga 2016, Yulianto Widiraharjo, membeberkan memori masa lalunya terkait dinamika pemenangan pemilihan kepala daerah masa silam.
Keterlibatan dalam percakapan strategis memperebutkan kursi kepemimpinan ibu kota diungkapkan secara blak-blakan melalui rekaman video yang kini menuai sorotan luas.
ADVERTISEMENT
Asal-usul perbincangan seputar kontroversi lembar dokumen kelulusan akademik tokoh sentral tersebut turut diungkit kembali dalam kesaksiannya.
Pengalaman bermula ketika dirinya mendapat undangan khusus dari Bitor Ariotejo untuk bertandang ke kediaman Eros Djarot yang berlokasi di kawasan GBN.
Candaan bernada menggelitik sempat dilontarkan sesaat setelah pertemuan tatap muka itu berlangsung di antara para tokoh yang hadir.
Nah, berkaitan dengan ijazah Pak Jokowi yang kemudian diduga palsu, itu memang menarik karena waktu itu Bung Bitor ngajakin saya bertemu di tempatnya Mas Eros Djarot di GBN, ujar Yulianto.
Begitu ketemu langsung ditanya, Mas Eros capek-capek kita cari pembuat ijazah palsu ternyata Yulianto, lanjutnya.
Sanggahan langsung diberikan seketika mengingat status jabatannya saat itu sebagai pimpinan lembaga independen yang menjunjung tinggi netralitas hukum.
Waduh langsung saya, waduh gak gitu karena saya posisi 2012 saya Ketua Komisi Informasi, sehingga saya nggak boleh gitu, katanya.
Selain pertemuan tersebut, penjelasannya juga diarahkan pada keberadaan markas-markas diskusi informal yang kerap dijadikan tempat berkumpul para pendukung.
Kawasan Menteng serta bangunan di bilangan Cikini nomor 69 disebut sebagai salah satu titik kumpul pertukaran gagasan politik waktu itu.
Nah memang, tetapi dari perbincangan ini, maka kenapa di beberapa pemberitaan tersebut lah, seperti, ya, apa yang sudah diberitakan itu, seperti sekretariat yang di Menteng katanya kan gitu, seperti itu di Cikini 69, tuturnya.
Markas resmi pemenangan memang berpusat di Jalan Borobudur nomor 22, namun perundingan santai kerap digelar di tempat terpisah.
Dan memang kita selalu berdiskusi.
Diskusi-diskusi dalam konteks pemenangan itu selain tim secara khusus mungkin ya, Yulianto menuturkan.
Tim Pak Jokowi secara resmi ada di Jalan Borobudur 22, tetapi juga secara informal di beberapa tempat, salah satunya yaitu di Cikini 69, tambahnya.
Ruang perbincangan tersebut dimanfaatkan secara maksimal guna merumuskan beragam taktik jitu agar target kemenangan dapat tercapai dengan mulus.
Itu dimana kita berdiskusi juga bagaimana mengupayakan agar Pak Jokowi bisa menjadi gubernur DKI pada tahun 2012.
Itulah dalam konteks seperti itu, jelasnya.
Topik pembicaraan mengenai keabsahan dokumen kelulusan sekolah menengah atas turut menjadi bahan perbincangan hangat di antara peserta rapat.
Kejanggalan fisik berupa perbedaan visual wajah pada lembar kertas tersebut sempat disuarakan oleh salah satu rekan diskusi bernama Denny Iskandar.
Nah kemudian berkaitan dengan soal ijazah ini memang sempat waktu itu menarik, karena Bung Denny Iskandar waktu itu sempat melontarkan bahwa kecurigaan dia, terangnya.
Bahwa kok fotonya Pak Jokowi, eh foto ijazah, itu kok berbeda dengan foto dengan Pak Jokowi, dengan sosok Pak Jokowi.
Iya, gitu.
Beda dengan itu, sambung dia.
Berkas fisik yang diterima kelompok tersebut diyakini bukan berupa lembar asli melainkan bentuk salinan yang telah sah secara administratif.
Itu tidak menunjukkan kertasnya, terangnya.
Pemberkasan pendaftaran pencalonan di lembaga penyelenggara pemilu disebut menggunakan lembar fotokopi legalisir yang dikirimkan langsung dari daerah asal.
Ya, memang diinformasikan oleh Denny bahwa waktu itu mereka terima berkas dari Solo, ijazahnya sudah dilegalisir, dan kemudian dibawalah ijazah tersebut didaftarkan di KPUD, kuncinya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok