Repelita [Jakarta] - Laman digital resmi milik lembaga perguruan tinggi baru mendadak menuai perbincangan hangat di ranah maya.
Platform daring tersebut disinyalir dibangun memakai bantuan teknologi kecerdasan buatan model lama oleh pengembangnya.
ADVERTISEMENT
Kritik tajam itu dilontarkan oleh seorang praktisi bidang kecerdasan buatan melalui akun https://x.com/hanif miliknya.
“Bangsaaat website URI dibikin vibe coding pake GPT-3.5,” tulis Hanif.
Besaran alokasi dana pembangunan sistem portal tersebut turut dipertanyakan meski nominal resminya tidak disebutkan secara rinci.
“Coba tebak anggaran website ini berapa milyar,” ucapnya.
Bahkan kualitas tampilan laman itu dinilai jauh tertinggal apabila disandingkan dengan sarana digital tingkat taman kanak-kanak.
“Doksli uri.ac.id. Silahkan kalian nilai sendiri. Ini mah kalah bagus sama website TK anak gue,” ujarnya.
Tidak berselang lama, portal internet perguruan tinggi tersebut dilaporkan mengalami gangguan akses akibat lonjakan kunjungan.
“BREAKING: Setelah website tumbang karena tidak mampu handle traffic,” kata Hanif melalui unggahannya.
Sindirannya berlanjut dengan kelakar pembentukan perusahaan penyedia layanan server khusus milik pemerintah ke depannya.
“Pemerintah memutuskan membentuk perusahaan hosting baru bernama Hosting Republik Indonesia (HRI). Servernya akan ditenagai teknologi AI (Aparat Indonesia),” imbuhnya.
Rencana operasional infrastruktur baru itu disebut masih menunggu tahapan kajian serta pembentukan satuan tugas khusus.
“Ditargetkan mulai beroperasi setelah studi banding dan pembentukan satgas,” pungkasnya.
Di sisi lain, proyek pendirian sepuluh kampus baru tersebut sebelumnya telah dikonfirmasi oleh pimpinan instansi terkait.
Gubernur perguruan tinggi tersebut menjelaskan bahwa institusi ini dipersiapkan untuk melahirkan kader penggerak bangsa berkarakter kuat.
“Presiden memberikan perhatian besar terhadap bagaimana Indonesia menyiapkan pemimpin masa depan. URI menjadi salah satu instrumen untuk membangun sumber daya manusia yang memiliki kapasitas, integritas, dan jiwa kepemimpinan,” ujar Donny Ermawan Taufanto.
Kapasitas intelektual saja dinilai belum cukup untuk menjawab kompleksitas persoalan tata kelola negara modern saat ini.
Model pendidikan tinggi ini mengambil inspirasi dari lembaga pembinaan administrasi publik kenamaan yang berada di daratan eropa.
Bekal manajerial serta etika pelayanan publik menjadi fokus utama pembentukan karakter para peserta didik di sana.
“Pemimpin tidak cukup hanya pintar secara akademik. Mereka harus memiliki karakter, kemampuan manajerial, serta memahami bagaimana mengelola negara dengan baik,” kata Donny.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok