Repelita Jakarta - Perbincangan mengenai kondisi ekonomi dan tingkat pendapatan pekerja di Indonesia menjadi perhatian sejumlah pengguna Threads setelah sebuah unggahan dari akun [@rimaukumbang120] pada 5 September 2026 menyoroti persoalan tersebut.
Dalam unggahannya, akun tersebut mempertanyakan alasan Indonesia belum mampu mencapai kemajuan ekonomi yang dinilainya sepadan dengan besarnya sumber daya alam serta jumlah penduduk yang dimiliki.
ADVERTISEMENT
“Adus! Kesian nya.
Indonesia adalah negara yang mempunyai sumber yang banyak dan rakyat yang banyak. Mereka mampu menjadi sebuah negara maju tetapi kenapa mereka gagal untuk menaikkan ekonomi negara mereka. Di mana silapnya?
Dulu aku cukup yakin, indonesia bakal jadi negeri maju menjelang 2030. Skrg aku kecewa
Gaji dosen pun hanya sekitar 3.3 juta, belum lagi gaji seorang guru, sekitar 200k sahaja.
Di malaysia, gaji minima sahaja udah 7.4 juta.
Moga baik2 sahaja buat sahabat di Indonesia.”
Pernyataan tersebut kemudian mendapat sejumlah tanggapan dari pengguna lain yang ikut membahas perbedaan pendapatan, upah minimum, serta kondisi pekerjaan antara Indonesia dan negara-negara tetangga.
Akun [@ikhwanrazully] memberikan respons singkat dengan menyoroti perbandingan penghasilan pejabat dan tenaga profesional di Indonesia.
“Yang dia bangga Hakim Negara gaji lagi tinggi dari Malaysia”
Sementara itu, akun [@azmanrashidusman] menyampaikan pengalaman mengenai besaran upah yang diberikan kepada pekerjanya dalam usaha yang dijalankannya di wilayah Bintaro.
“Saya buat perusahaan cafe di bintaro. Gaji karyawan saya serendah 3.5jt 🙏”
Komentar lain datang dari akun [@sidekizan] yang mempertanyakan besaran upah pekerja di Indonesia apabila dibandingkan dengan angka upah minimum di Malaysia.
“Dekat MALAYSIA gaji PT aja bermula RM1700 klau rupe brp yer”
Akun [@fakhrulnizamrazak] kemudian mengaitkan kekayaan sumber daya alam dengan kesejahteraan masyarakat melalui komentar yang bernada kritik terhadap pengelolaan hasil bumi.
“Hasil bumi yang banyak cuma untuk menteri. Rakyat cuma jadi kuli.”
Pembahasan tersebut juga mendapat respons dari pengguna lain yang menyoroti jenis pekerjaan dengan tingkat penghasilan rendah di Malaysia.
Akun [@honyyyou] menulis bahwa pekerjaan seperti penjaga dan petugas kebersihan di Malaysia disebut memiliki besaran upah tertentu setiap bulannya.
“Gaji jaga.. tukang sapu dan org2 baru masuk kerja apa2 saja dmalaysia itu rm1700 bln... sgt kasihan pd mereka...”
Perbandingan serupa disampaikan akun [@mohdhmz] dengan membawa kondisi pendapatan pekerja di Brunei sebagai pembanding.
“Kalau diBrunei gaji begitu untuk pembersih sahaja”
Sementara itu, akun [@muhdepul1616] menyoroti persoalan lain yang berkaitan dengan pendidikan tinggi dan kesempatan memperoleh pekerjaan setelah menyelesaikan studi.
“Apa, beza, ngan malaysia bljr tggi tggi last last kerja tkde, nak kerja operator overqualified, 🤣🤣, xpyh cite psl ngra org, ngra kita pon still kucar kacir sistem”
Rangkaian komentar tersebut memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai pendapatan di Indonesia berkembang menjadi diskusi yang lebih luas tentang kualitas lapangan kerja, tingkat kesejahteraan, pendidikan, serta efektivitas sistem ekonomi.
Namun, angka gaji dan perbandingan pendapatan yang disampaikan dalam unggahan maupun komentar tersebut merupakan klaim atau pengalaman pribadi pengguna media sosial dan tidak dengan sendirinya menjadi data resmi mengenai kondisi seluruh pekerja di Indonesia, Malaysia, maupun Brunei.
Perbedaan upah juga tidak dapat dinilai hanya dari nominal mata uang karena terdapat faktor lain seperti biaya hidup, struktur pekerjaan, produktivitas, kebijakan upah minimum, serta perbedaan sistem ekonomi masing-masing negara.
Meski demikian, percakapan tersebut menunjukkan adanya perhatian warganet terhadap pertanyaan mengenai sejauh mana pertumbuhan ekonomi dapat diterjemahkan menjadi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat secara luas.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads