Repelita Jakarta - Gelombang protes terkait kelangkaan dan mahalnya bahan bakar dilaporkan terjadi bersamaan di Irak dan Suriah pada Senin, 14 September 2026.
Informasi tersebut disampaikan akun @DD_Geopolitics melalui unggahan pada 14 September 2026, yang menyoroti kondisi pasokan bahan bakar di kedua negara.
ADVERTISEMENT
Di Irak, masyarakat disebut turun ke jalan untuk memprotes keterbatasan pasokan serta meningkatnya biaya solar, sementara aksi di Suriah berkembang menjadi pemblokiran jalan dan pembakaran ban.
Kondisi di Suriah disebut semakin berat setelah harga sejumlah produk bahan bakar meningkat hingga sekitar 40 persen, sehingga memicu kemarahan masyarakat di sejumlah wilayah.
Pada saat warga di kedua negara menghadapi persoalan pasokan, arus tanker minyak bumi dari Irak justru tetap bergerak melewati wilayah Irak menuju Suriah untuk kemudian ditampung di kawasan Baniyas.
Setelah berada di Baniyas, muatan tersebut dilaporkan dipindahkan ke kapal tanker sebelum dikirim menuju sejumlah pasar luar negeri di Eropa dan Afrika.
Menurut informasi yang dibagikan @DD_Geopolitics, volume minyak bumi yang melewati wilayah Suriah telah mencapai lebih dari 2,1 juta ton hingga akhir Juli 2026.
Lalu lintas pengangkutan tersebut disebut dapat mencapai sekitar 1.000 truk tanker setiap hari, menunjukkan besarnya aktivitas distribusi minyak yang tetap berlangsung di tengah persoalan bahan bakar domestik.
Unggahan tersebut juga menyebut bahwa pemerintah Suriah memperoleh pemasukan dari biaya transit atas aktivitas pengangkutan tersebut, dengan pembayaran dilakukan melalui pembeli dan perantara.
Namun, besaran penerimaan yang diperoleh pemerintah di Damaskus dari kegiatan transit tersebut belum diungkapkan dalam informasi yang beredar.
Situasi itu kemudian menjadi sorotan karena masyarakat di kedua sisi jalur distribusi justru menghadapi keterbatasan bahan bakar dan kenaikan harga, sementara minyak tetap bergerak melewati wilayah mereka menuju pasar internasional.
Sejumlah pengguna media sosial turut memberikan tanggapan terhadap kondisi tersebut, termasuk @WolfRayet2025 yang menulis, “It's interesting to wake-up and seeing the world go up in smoke!”
Akun @DD_Geopolitics kemudian membalas komentar tersebut dengan kalimat, “Go back to bed wolf.”
Pengguna lain, @Kathleen_Tyson_, menulis, “It’s almost like the US imposed governments aren’t serving the Iraqi and Syrian people, isn’t it?”
Sementara itu, @AbuArab45 mempertanyakan kondisi tersebut dengan menulis, “How can Iraq and Syria having rising fuel costs ams shortages when both countries produce oil?”
Akun @TotiKubila mengingat kondisi masa lalu dengan pernyataan, “Use to be a penny a liter in Damascus in the 1990’s under Assad 😣”
Komentar lainnya datang dari @MadLunatic69 yang menulis, “Imagine all these very oil rich nations without fuel. Seems like they should be burning shit down.”
Akun @MGC1383 turut memberikan tanggapan singkat, “it's the Irish potato famine model”
Sementara itu, @warchronicless menyoroti potensi gangguan terhadap jalur distribusi darat dengan menulis, “Looks like another route, this time, a land route is about to get shut down by protesters in Syria and Iraq.”
Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan adanya ketegangan antara persoalan pasokan energi di dalam negeri dengan aktivitas perdagangan minyak yang tetap berlangsung melalui jalur regional.
Jika aksi protes terus meluas dan mengganggu jalur transportasi, distribusi bahan bakar serta pergerakan tanker dapat menghadapi tekanan tambahan di tengah tingginya keresahan masyarakat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
🇮🇶🇸🇾 Iraq and Syria are both facing fuel protests while Iraqi petroleum is being exported through Syria
— DD Geopolitics (@DD_Geopolitics) September 13, 2026
Iraqis are protesting fuel shortages and rising diesel costs. Syrians are blocking roads and burning tires over fuel shortages and price hikes of up to 40%.
Meanwhile,…