Repelita [Jakarta] - Publik tengah ramai memperbincangkan tren keberanian anak muda kekinian dalam menyuarakan berbagai isu sosial hingga politik.
Banyak kalangan mempertanyakan sumber kelantangan tersebut apakah murni wujud kepedulian atau sekadar mengikuti arus algoritma digital.
ADVERTISEMENT
Wakil Ketua BEM Universitas Indonesia, Fathimah Azzahra, lantas membagikan pandangannya terkait pembentukan karakter vokal yang dimilikinya.
Mahasiswi kedokteran berusia 21 tahun itu menyatakan bahwa fondasi sikap kritis dan kepercayaan dirinya telah ditanamkan keluarga sejak dini.
Fathimah mengenang masa kecilnya saat ia dan saudaranya rutin diajak menyaksikan tayangan berita bersama orang tua.
Setiap kali jeda iklan tiba, ayah dan ibunya selalu memaparkan pokok permasalahan secara mendalam sehingga tercipta ruang dialog setara.
Kebiasaan berdialog secara terbuka tersebut terbawa hingga ke bangku sekolah tempat ia kerap bertukar argumen dengan pengajar.
Psikolog muda Nadya Attuwy turut menanggapi fenomena tersebut dengan menyebut keberanian memang melekat pada karakteristik generasi muda masa kini.
Meski demikian, ia menggarisbawahi urgensi peran pengasuhan domestik agar anak memiliki daya kritis tinggi serta tidak mudah terombang-ambing.
Nadya menjabarkan tiga panduan krusial bagi orang tua mencakup pelatihan menyimak informasi, pembiasaan diskusi, serta keengganan menghakimi pandangan anak.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok