Repelita Jakarta - Perdebatan panas di program Rakyat Bersuara yang tayang di iNews TV pada Selasa, 21 April 2026 malam, berujung pada insiden nyaris adu jotos antara kuasa hukum Rismon Sianipar, Jahmada Girsang, dengan pakar hukum tata negara Refly Harun.
Insiden kontak fisik sempat terjadi di atas panggung saat Refly Harun memutuskan untuk melakukan walk out atau meninggalkan ruangan usai memberikan pernyataan soal pengelolaan manajemen buku Jokowi's White Paper.
ADVERTISEMENT
Sebelumnya menurut kubu Rismon Sianipar, penjualan dan pengelolaan buku tersebut tidak transparan dan dijalankan dengan cara yang tidak jelas.
Refly Harun kemudian berusaha menjelaskan duduk perkara sebenarnya tentang manajemen penjualan dan penerbitan buku tersebut berdasarkan pengalamannya sebagai seorang penulis.
"Kalau saya tidak dikasih kesempatan ngomong lagi, ngapain saya di sini? Itu namanya orang bodoh. Bapak ya, Jahmada Girsang yang saya hormati. Anda menghormati saya kan? Tetapi ketika Anda belok, Anda tidak ngomong apa-apa ke saya," sindir Refly kepada Jahmada.
Refly lalu menghampiri narasumber dari kubu Rismon Sianipar yang berada di atas panggung sebelum keluar ruangan.
Ia bersalaman terlebih dahulu dengan Aiman Witjaksono selaku pembawa acara, lalu menyalami Rismon Sianipar dengan sikap yang masih terkendali.
"Ini pakai pengacara raja konten, kata Rismon," ujar Refly sambil melontarkan sindiran pedas.
Usai menyalami Rismon, Refly lalu beralih menyalami Jahmada Girsang yang duduk tidak jauh dari posisinya.
"Ini teman saya yang paling baik. Tetapi ketika belok, dia tidak ngomong," kata Refly yang sontak memicu kemarahan Jahmada.
Karena ucapan Refly yang dinilai menghakimi tersebut, Jahmada tampak tidak terima sehingga tidak melepaskan jabatan tangan Refly yang hendak turun panggung.
Bahkan Jahmada dengan tegas tampak menarik tangan Refly lebih lama dari biasanya, dengan gesture tubuh yang menunjukkan sikap tidak suka.
Refly berusaha tenang menghadapi sikap provokatif dari Jahmada yang mulai menunjukkan emosi yang tidak terkendali.
Jahmada lalu sedikit mendorong tubuh Refly sebagai bentuk awal dari kontak fisik yang semakin meningkat.
Keduanya sempat berhadapan dalam jarak yang sangat dekat dengan pandangan mata yang saling menusuk penuh emosi.
Refly sempat agak mendorong balik Jahmada yang tidak juga melepaskan jabatan tangan Refly dari genggamannya.
Namun Jahmada membalas dengan gerakan yang lebih reaktif dan agresif, mendorong tubuh Refly Harun ke belakang dengan tenaga yang cukup besar.
Keduanya nyaris adu jotos karena kontak fisik dan saling dorong sudah terjadi di atas panggung yang disiarkan secara live.
"Saya gak terima itu," teriak Jahmada sambil mendorong Refly, namun segera dilerai oleh Aiman dan narasumber lainnya yang berada di lokasi.
Seketika panggung dipenuhi oleh mereka yang hendak melerai agar kedua pengacara tersebut tidak terlibat kontak fisik yang lebih parah.
"Dua-duanya keluarin," teriak Roy Suryo dari sisi panggung yang berbeda, ikut menyaksikan ketegangan yang terjadi.
Insiden ketegangan tersebut terjadi saat acara Rakyat Bersuara sedang berlangsung secara live sehingga langsung menjadi sorotan tajam publik.
Di balik insiden fisik tersebut, terselip dinamika emosional yang sangat kuat antara kedua tokoh hukum yang sama-sama memiliki ego tinggi.
Perdebatan yang awalnya berkutat pada isu intelektual dan transparansi buku berubah drastis menjadi konflik personal yang tidak terduga.
Aksi nyaris adu jotos ini sangat disayangkan oleh banyak pihak mengingat keduanya merupakan pakar hukum yang seharusnya mengedepankan argumentasi intelektual.
Refly Harun yang sebelumnya menyebut Jahmada sebagai "teman baik" justru menunjukkan gestur kekecewaan mendalam sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan studio.
Sebelum insiden puncak terjadi, Rismon Sianipar sempat mengkritik habis-habisan pengelolaan buku yang dinilai tidak transparan dan merugikan banyak pihak.
Pernyataan itu kemudian dibalas oleh Roy Suryo yang membela mati-matian pihak dokter Tifa selaku penerbit buku.
Refly Harun kemudian masuk memberikan pandangan hukum yang lebih komprehensif tentang hubungan antara penulis dan penerbit.
Dalam paparannya, Refly menegaskan perbedaan mendasar antara peran penulis dan pengelola buku yang sering kali tidak dipahami oleh publik awam.
Ia menilai tidak semua penulis berhak menuntut transparansi finansial secara penuh jika tidak terlibat langsung dalam proses produksi dan distribusi.
Pernyataan hukum tersebut memicu respons keras dari pihak yang berseberangan, yang akhirnya berujung pada kontak fisik yang nyaris tidak terkendali.
Sebelumnya dalam acara yang sama, Refly Harun juga melontarkan pernyataan menohok terhadap Presiden Joko Widodo terkait polemik ijazah.
Refly tanpa ragu menyebut mantan Wali Kota Solo itu sebagai sosok yang "jahat" karena dianggap membiarkan publik terus bertikai.
"Inilah jahatnya orang yang bernama Joko Widodo. Kenapa jahat? Dia membiarkan anak bangsa terpecah belah mendebatkan apakah ijazahnya asli atau palsu," tegas Refly.
Menurut Refly, keributan berkepanjangan ini seharusnya bisa diselesaikan dalam hitungan jam jika Jokowi bertindak sebagai seorang negarawan sejati.
Ia menuntut adanya transparansi total, bukan sekadar menunjukkan fisik ijazah di hadapan penyidik kepolisian seperti yang dilakukan selama ini.
"Kalau dia seorang negarawan, kita tantang malam ini tunjukkan ijazahnya. Undang press conference, undang Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan semua pakar telematika hingga digital forensik seluruh dunia," ujarnya.
Refly menilai ketiadaan langkah konkret dari Istana untuk mengakhiri polemik ini justru menjadi bumerang yang menggerus kohesi sosial masyarakat Indonesia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok