Repelita Jakarta - Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang baru saja diluncurkan kini menuai komparasi polemik kemanusiaan yang sangat serius di kalangan masyarakat sipil.
ADVERTISEMENT
Langkah pendistribusian logistik pangan massal tersebut dikritik tajam oleh para orang tua murid lantaran ditemukannya penyajian menu lauk hewani yang tidak higienis serta belum matang.
Rangkaian kekecewaan publik terhadap buruknya fungsi kontrol pengawasan makanan anak sekolah ini dibagikan oleh seorang wali murid melalui akun media sosial Threads pribadi.
Takarir digital yang memancing perhatian ratusan ribu pasang mata tersebut diunggah oleh akun hasnaluth.f pada hari Kamis tanggal lima November tahun dua ribu dua puluh enam.
"Hari ini ponakanku dapet MBG, dan kalian tau apa yang disajikan ke anak anak?
Ayam yang masih mentah.
Iya, MENTAH.
Anak-anak bilang ayamnya masih mentah ke gurunya, tapi yang lebih mengecewakan, bukannya memvalidasi, guru mereka bilang itu SAOS.
Anak anak itu tetap disuruh menerima daging ayam yang tidak matang itu??
Gimana ga banyak kasus keracunan MBG??," tulis akun hasnaluth.f dalam bentuk kekesalan sosiologisnya.
Ia mendesak agar Badan Gizi Nasional bersama Satuan Pelayanan Program Gizi atau SPPG selaku pemegang amanah teknis segera melakukan evaluasi kurikulum dapur umum secara maraton.
Pihak keluarga menyayangkan sikap jajaran tenaga pendidik di lapangan yang terkesan mengabaikan keluhan fisik para murid serta memaksa anak-anak mengonsumsi pangan berbahaya.
"Bapak Ibu pembuat kebijakan, Kami tidak punya kuasa terhadap apa yang disajikan ke anak-anak kami, jika kami dipaksa menerima program prematur ini maka setidaknya BUATLAH KONTROL YANG KUAT, terima kritik, dan berani evaluasi.
Generasi penerus kita yang kalian pertaruhkan.
DAN PLEASE, Bapak Ibu Guru, jika memang makanan yang diberikan tidak layak untuk dikonsumsi, JANGAN PAKSA ANAK ANAK MENERIMA.
Tolong lindungi anak-anak kami," sambung akun hasnaluth.f melayangkan butir tuntutan moral.
Fakta buruknya kualitas pengolahan sajian MBG ini terkuak setelah salah seorang murid berinisiatif membawa pulang paket kotak ransum tersebut ke rumah kediaman.
Kondisi daging yang masih memperlihatkan serat merah darah basah itu sengaja didokumentasikan secara otentik sebagai alat bukti pengaduan siber sebelum dibuang ke kandang ternak.
"Kasus ini ketahuan karena ada salah satu murid yang membawa pulang mbg tersebut untuk diberikan ke "ternak ayam" nya.
Jadi kita semua bisa liat, beneran sementah itu.
Untuk semua SPPG yang diberi AMANAH untuk menyalurkan program ini, tolong lebih berhati-hati dalam mengemban tugas ini.
Jaga kualitas makanan yang kalian buat.
Anak-anak kami bukan sekedar angka statistik, tapi mereka adalah harta berharga kami yang tak akan tergantikan.
Jadi tolong jangan racuni mereka," urai akun hasnaluth.f mengingatkan akuntabilitas birokrasi.
Pasca-unggahan tersebut viral, pihak manajemen pengelola SPPG daerah dilaporkan sempat melayangkan desakan rahasia agar takarir komplain publik di platform siber segera diturunkan.
Namun warganet secara kompak memberikan dukungan moral dan meminta pelapor tetap konsisten melakukan gerakan bersuara guna memberikan konsekuensi efek jera bagi rekanan penyedia.
"Temen temen threads makasih yaa udah peduli dan ramein.
Sebelum post thread ini, tadi kita juga sudah langsung lapor ke sppg terkait dan katanya sudah ditindaklanjuti.
Ada juga permintaan untuk ngehapus thread ini juga, tapi maaf kelalaian dalam menjalankan program publik itu harus siap diikuti dengan konsekuensinya, dan cuma dengan speak up ini usaha kami sebagai rakyat untuk memastikan kejadian serupa tidak akan terulang lagi," pungkas akun hasnaluth.f menutup keterangannya.
Hingga saat ini, pihak Kementerian Koordinator Bidang Pemerintahan masih terus mematangkan roadmap pengawasan higienitas dapur produksi di berbagai daerah.
Masyarakat sipil menegaskan akan terus mengawal operasional program prioritas Presiden Prabowo Subianto ini agar tidak menjadi ladang korupsi maupun malapetaka kesehatan bagi generasi muda.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads