Berita, Internasional

[VIRAL] Slogan Bismillah c’est les ténèbres Jadi Simbol Sindiran Dugaan Penyusupan Polisi pada Demo Prancis

Repelita.id

19 October 2026 21:59 WIB

[VIRAL] Slogan Bismillah c’est les ténèbres Jadi Simbol Sindiran Dugaan Penyusupan Polisi pada Demo Prancis
Foto: Istimewa


Repelita Jakarta - Penggunaan sebuah slogan unik campuran dua bahasa kini tengah merebak luas di tengah gelombang unjuk rasa di negara Prancis.

ADVERTISEMENT

Ungkapan bermuatan kalimat Bismillah c’est les ténèbres dilaporkan menjadi sebuah fenomena populer di kalangan pelajar serta elemen mahasiswa setempat.

Kalimat tersebut ramai dipajang pada draf poster aksi lapangan serta menyebar secara masif melalui platform digital sejak awal Oktober 2026.

Kemunculan frasa unik ini bermula dari tangkapan layar ruang percakapan aplikasi Snapchat yang diduga menjadi area infiltrasi informasi demonstrasi.

Pesan digital itu dikirim oleh oknum tidak dikenal yang berusaha menyusup masuk ke dalam grup percakapan koordinasi rencana pemblokiran sekolah.

Pihak pengirim menyertakan kalimat janggal tersebut sebelum menanyakan rincian jadwal aksi serta meminta akses masuk ke dalam kepanitiaan.

Gaya penyampaian tulisan dari oknum misterius itu dinilai tidak wajar serta terkesan dibuat-buat oleh sejumlah pelajar yang membaca pesan.

Perpaduan susunan bahasa gaul Perancis dengan istilah Arab yang berlebihan memicu kecurigaan kuat mengenai upaya penyamaran identitas asli di internet.

Draf dugaan yang beredar luas di media sosial menyebutkan bahwa akun penyusup tersebut dioperasikan oleh oknum kepolisian setempat.

Kendati demikian asumsi liar dari para demonstran mengenai kepemilikan akun intelijen itu belum dapat terverifikasi secara independen di lapangan.

Secara harfiah istilah keagamaan Arab tersebut memiliki arti dengan nama Allah sedangkan kalimat pendampingnya bermakna inilah sebuah kegelapan.

Kombinasi kedua rumpun bahasa tersebut dinilai terdengar sangat aneh serta tidak memiliki korelasi makna yang jelas bagi publik.

Faktor kejanggalan linguistik inilah yang justru memicu gelombang lelucon hingga diadaptasi menjadi materi meme serta video parodi warganet.

Slogan digital tersebut kini bertransformasi menjadi sebuah simbol sindiran massal untuk mengkritik upaya infiltrasi ke dalam kelompok gerakan pemuda.

Popularitas dari frasa sarkasme ini dilaporkan telah merambah keluar dari ranah ruang digital platform media sosial belakangan ini.

Sejumlah tokoh serta faksi politik bahkan mulai menggunakan kutipan tersebut dalam memberikan pernyataan resmi mengenai dinamika aksi massa.

Di balik balutan humor fenomena ini turut memicu perdebatan serius mengenai stereotip rasial terhadap kelompok minoritas keturunan Afrika Utara.

Muatan pesan awal dinilai mengeksploitasi gambaran karikatural anak muda dari kawasan pinggiran kota yang sering dikaitkan dengan kerusuhan.

Gerakan unjuk rasa mahasiswa itu sendiri terus meluas demi menyuarakan tuntutan fasilitas pendidikan layanan publik hingga beban biaya hidup.

Pemanfaatan media sosial bermuatan humor memperlihatkan taktik generasi muda dalam membangun solidaritas kelompok serta melayangkan kritik terhadap penguasa.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok









TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung