Repelita Samarinda - Dunia pendidikan di Kalimantan Timur berduka sekaligus diguncang oleh kabar viral yang tersebar luas terkait meninggalnya Mandala Rizky Saputra, seorang siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Samarinda.
Remaja belia yang baru menginjak usia 16 tahun tersebut mengembuskan napas terakhirnya pada tanggal 24 April 2026, setelah sempat mengalami pembengkakan kaki dan penurunan kondisi fisik yang diduga kuat dipicu oleh penggunaan sepatu terlalu sempit.
ADVERTISEMENT
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan akhirnya memberikan klarifikasi resmi guna meluruskan simpang siur informasi yang beredar liar di masyarakat.
Pelaksana Tugas Kepala Disdikbud Kalimantan Timur, Armin, membenarkan adanya laporan bahwa almarhum menggunakan sepatu dengan ukuran nomor 43 yang diduga kekecilan hingga menyebabkan kakinya membengkak secara signifikan.
"Sekolah telah memberikan pendampingan dengan melakukan kunjungan semenjak siswa teridentifikasi mengalami penurunan kondisi kesehatan, serta berupaya memfasilitasi layanan kesehatan dengan koordinasi secara berkelanjutan dengan keluarga," tegas Armin dalam keterangan resminya pada Selasa, 5 Mei 2026.
Berdasarkan data yang berhasil dihimpun oleh tim investigasi, Mandala menjalani praktik kerja lapangan di sebuah pusat perbelanjaan bernama Ramayana Robinson yang berlokasi di Samarinda pada periode 9 Februari hingga 20 Maret 2026.
Masalah kesehatan mulai muncul sesaat setelah kegiatan praktik tersebut berakhir, ditandai dengan berbagai keluhan fisik yang dialami oleh almarhum.
Pada tanggal 30 Maret 2026, Mandala sempat kembali ke sekolah untuk belajar seperti biasa namun kondisinya mulai terlihat kurang bersemangat.
Tanggal 1 April 2026, kondisi fisiknya menurun drastis dengan keluhan sering pusing dan lemas yang luar biasa sehingga akhirnya diantar pulang oleh pihak sekolah.
Pada tanggal 2 April 2026, orang tua Mandala secara resmi mengirimkan surat izin sakit ke sekolah karena anak mereka sudah tidak sanggup berjalan sama sekali.
Tanggal 10 April 2026, keluarga melaporkan bahwa kondisi Mandala terus merosot tanpa perbaikan meskipun sudah berbagai upaya dilakukan.
Saat itu pihak keluarga mengira bahwa gangguan kesehatan yang dialami Mandala bersifat non medis atau berhubungan dengan hal-hal spiritual.
Pihak sekolah pun bergerak cepat dengan membantu biaya pengobatan alternatif di wilayah Tenggarong sebesar Rp1.100.000 sebagai bentuk kepedulian.
Pihak sekolah kemudian melakukan kunjungan rumah secara langsung pada tanggal 21 April 2026 untuk melihat kondisi terkini sang siswa.
Guru yang datang ke rumah mendapati kaki Mandala dalam kondisi lemas dan bengkak yang sangat parah meskipun tidak ditemukan luka terbuka atau lecet di permukaan kulit.
Saat itu juga, guru yang berkunjung menyarankan dengan tegas agar Mandala segera dibawa ke fasilitas kesehatan resmi seperti puskesmas atau rumah sakit.
Namun upaya medis terkendala oleh masalah ekonomi keluarga yang cukup pelik karena adanya tunggakan biaya pengobatan masa lalu.
Orang tua korban melaporkan bahwa mereka memiliki hutang biaya pengobatan sebesar Rp2.400.000 yang belum lunas sejak pengobatan sebelumnya.
Sekolah kemudian membantu mengurus administrasi BPJS Kesehatan melalui bantuan pemerintah dengan berkoordinasi bersama Ketua Rukun Tetangga setempat.
Pada tanggal 23 April 2026, kondisi Mandala dilaporkan sempat membaik secara signifikan dan bengkak di bagian kakinya mulai mengempis sedikit demi sedikit.
Pihak sekolah bahkan berencana untuk membelikan sepatu baru yang ukurannya sesuai dan nyaman bagi Mandala pada keesokan harinya.
Namun takdir berkata lain secara tragis karena pada pagi hari tanggal 24 April 2026, Mandala Rizky Saputra dinyatakan meninggal dunia di kediamannya.
Hingga saat ini, penyebab medis pasti kematian Mandala masih menjadi perhatian utama para ahli dan tim medis yang menangani.
Spekulasi tentang infeksi atau komplikasi akibat pembengkakan kaki yang dipicu oleh sepatu sempit menjadi sorotan utama netizen di media sosial.
Pihak sekolah telah mendampingi seluruh proses pemulasaraan jenazah hingga pemakaman sebagai bentuk tanggung jawab moral dan kemanusiaan.
Disdikbud Kalimantan Timur pun mengimbau kepada seluruh sekolah dan orang tua agar lebih peka terhadap keluhan fisik siswa selama program praktik lapangan berlangsung.
Imbauan ini bertujuan untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali di masa depan yang tentu tidak diinginkan oleh siapapun.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok