Berita, Viral Sosmed

[VIRAL] Singapura Kantongi Data Tujuh Perusahaan Indonesia Penyebab Kabut Asap Lintas Batas Kian Memanas

Repelita.id

18 October 2026 15:33 WIB

[VIRAL] Singapura Kantongi Data Tujuh Perusahaan Indonesia Penyebab Kabut Asap Lintas Batas Kian Memanas
Foto: Istimewa


Repelita Jakarta - Sebuah sorotan tajam terkait transparansi keterbukaan data atas bencana kabut asap lintas batas negara memicu polemik panas di ruang publik.

ADVERTISEMENT

Informasi tersebut sebelumnya diunggah oleh akun @davidalfasunarna pada tanggal 18 Oktober 2026 yang mengkritik tata kelola integrasi data kehutanan di dalam negeri.

Pemilik akun membandingkan kesiapan pemaparan data tersebut dengan menuliskan narasi Menteri lingkungan hidup Singapura, Grace Fu, bilang sebagian kabut asap di sana berasal dari lahan tujuh perusahaan di Indonesia, dan mereka punya datanya secara terbuka.

Kritik tajam pun diarahkan pada lemahnya manajemen koordinasi internal serta ketidakjelasan status hukum bagi para pelaku perusakan ekosistem.

Menurut sang pengunggah, Di sini, angka karhutla bikin Presiden sendiri salah nangkep, 26 izin dibekukan tanpa nama, dan portal peta hutan sendiri dikunci.

Publik menyayangkan adanya disparitas komitmen publikasi informasi spasial tersebut padahal kedua negara memanfaatkan infrastruktur pemantauan yang identik.

Satelitnya sama, alatnya sama. Yang beda, mau dibuka atau enggak datanya? Dan apa sih yang bisa diharepin dari negara yang KTP-nya masih difotokopi dalam postingannya.

Keresahan atas ketertutupan data ini kemudian direspons oleh aktivis lingkungan dengan menggaungkan gerakan moral demi penyelamatan kawasan hutan.

Warganet dengan akun @asepwydyamulyadi menyuarakan pandangannya di kolom komentar dengan menuliskan SALAM TIGA JARI: PENGHORMATAN, PERSATUAN, HARAPAN. Di tengah hutan yang hangus dan langit yang kehilangan birunya, tiga jari ini bukan sekadar gestur. Ini adalah PENGHORMATAN bagi alam yang terluka, PERSATUAN untuk melawan Karhutla, dan HARAPAN agar generasi mendatang masih punya hutan untuk diwariskan. Jangan biarkan asap menjadi warisan, dan kebakaran menjadi tradisi tahunan. Hutan bukan abu. Masa depan bukan untuk dibakar. Saatnya #StopKarhutla! secara rinci.

Aksi kampanye digital tersebut turut diperluas dengan penyematan seruan pelestarian lingkungan hidup berbasis wilayah di luar ruang diskusi.

Pengguna akun yang sama melengkapi pesannya dengan menuliskan teks pendek berupa tagar #StopKarhutla #Karhutla #SaveOurForest #LindungiHutan #KalimantanTengah sebagai penutup ruang interaksi warga digital.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok









View on Threads

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung