Repelita Jakarta - Jagat dunia maya dihebohkan oleh kemunculan rekaman visual berdurasi singkat yang menampilkan seorang anak santri usia dini.
Pendidik muda tersebut tampak berani meluruskan kesalahan pelafalan ayat suci Alquran yang dilakukan oleh pejabat tinggi negara.
ADVERTISEMENT
Tokoh publik yang mendapat koreksi langsung secara terbuka itu adalah Menteri Agraria dan Tata Ruang sekaligus Kepala Badan Pertanahan Nasional Nusron Wahid.
Anak santri tersebut dengan tegas mengingatkan agar sang pejabat tidak sembarangan melafalkan maupun menafsirkan ayat kitab suci demi kepentingan tertentu.
Momen koreksi tersebut bermula ketika menteri terkait memberikan penjelasan mengenai Surah Quraisy yang disangkutpautkan dengan program makanan gratis.
Terdapat setidaknya tiga poin krusial menyangkut bacaan serta arti ayat yang langsung disoroti tajam oleh santri cilik tersebut.
Kesalahan pertama terletak pada pengucapan potongan ayat berbunyi li ilafi li quraisyin yang dinilai kurang tepat oleh sang santri.
Berdasarkan kaidah tajwid yang benar, pelafalan ayat tersebut seharusnya berbunyi li iilafi quraisyi tanpa tambahan huruf yang keliru.
Koreksi tersebut secara jelas disampaikan oleh santri cilik dalam video yang beredar di media sosial, dikutip Jumat (4/9).
Titik koreksi kedua menyoroti kelanjutan bacaan ayat ketika sang pejabat melafalkan bagian fal ya'budu rabba hadzal baitil ladzina alladzina at'amahum min ju.
Remaja santri itu langsung meluruskan bahwa frasa yang tepat seharusnya diucapkan sebagai alladzi at'amahum min ju tanpa ada pengulangan kata yang salah.
Persoalan berikutnya muncul tatkala sang menteri mulai menjabarkan arti ayat tersebut untuk dikaitkan dengan kebijakan pengadaan pangan pemerintah.
Pejabat tersebut berpendapat bahwa penggalan ayat yang bermakna memberi makan dari kelaparan sangat sinkron dengan program prioritas ketahanan pangan nasional.
Bahkan, kebijakan pembagian makanan bergizi diklaim sudah selaras dengan semangat ayat suci karena bertujuan menanggulangi warga yang kelaparan.
Namun penafsiran tersebut langsung dimentahkan oleh santri cilik yang menegaskan bahwa kedudukan frasa tersebut merupakan sifat dari Tuhan pencipta alam.
Konstruksi bahasa Arab pada ayat itu menempatkan kata pemberi makan sebagai sifat bagi Tuhan yang disembah, bukan merujuk kepada manusia penyedia program.
Pemberian kritik menohok pun dilayangkan karena penafsiran keliru tersebut seolah-olah mengarahkan masyarakat untuk menyembah manusia pemberi bantuan.
Sikap kritis tersebut turut didukung oleh rekan santri lainnya yang mengingatkan pentingnya menjaga kemurnian teks suci dari penafsiran serampangan.
Mereka menegaskan bahwa perdebatan aturan kenegaraan sah-sah saja dilakukan, namun ayat suci agama tidak boleh disalahgunakan secara sembarangan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok