Repelita Jakarta - Inisiatif pembagian santapan bernutrisi gratis kembali menuai badai kritik menyusul laporan ribuan pelajar serta tenaga pengajar yang jatuh sakit akibat keracunan massal.
Peristiwa teranyar tercatat di wilayah Lasem, Jawa Tengah, di mana ratusan warga sekolah mendadak menderita gangguan pencernaan parah seusai menyantap paket menu harian.
ADVERTISEMENT
Jumlah korban dari institusi pendidikan tersebut mencakup 752 orang murid serta 25 guru yang langsung mengalami gejala pusing, muntah-muntah, hingga diare akut.
Kepala sekolah Juhartutik mengungkapkan bahwa hidangan yang dibagikan kepada para siswa saat itu berupa menu olahan daging ayam bakar matang.
Sebelum proses distribusi dimulai, petugas pengawas sempat mendapati sebagian daging ayam dalam kondisi berlendir dan langsung memisahkan bagian tersebut agar tidak ikut dibagikan.
Yang berlendir sudah disisihkan. Operator dapur mengatakan makanan dimasak pukul 03.00 dan baru dimakan siang hari, kata Juhartutik seperti dilaporkan Reuters.
Petugas medis setempat bernama Joko Paryanto mengonfirmasi bahwa belasan korban harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit sementara sisanya diperbolehkan pulang.
Gelombang insiden keracunan tersebut memperpanjang daftar panjang kasus serupa di berbagai daerah yang terjadi dalam kurun waktu beberapa hari terakhir saja.
Catatan menunjukkan sebanyak 664 pelajar di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mengalami gangguan kesehatan serupa usai mengonsumsi makanan dari program nasional tersebut.
Kasus lanjutan kembali dilaporkan terjadi di wilayah Nganjuk dengan puluhan korban terdampak, serta ratusan kasus lainnya yang melanda kawasan Kabupaten Agam, Sumatra Barat.
Menanggapi rentetan insiden mengkhawatirkan itu, legislator parlemen Charles Honoris melayangkan kritik keras terhadap tata kelola pelaksanaan program bantuan makanan tersebut.
Ini adalah kegagalan sistem, ujar Charles melalui unggahan di Instagram, dengan mengutip data dinas kesehatan setempat.
Berdasarkan paparan data yang dihimpun hingga awal September 2026, jumlah total warga yang mengalami keracunan akibat program tersebut telah menyentuh angka 50.000 jiwa.
Pihak Badan Gizi Nasional selaku lembaga pengawas anggaran bernilai fantastis tersebut belum memberikan keterangan resmi menanggapi rangkaian musibah keracunan terbaru ini.
Kendati demikian, instansi berwenang sebelumnya sempat mengambil langkah tegas dengan menutup operasional dapur penyedia katering yang menjadi sumber kasus di Sidoarjo.
Faktor utama yang kerap disorot dalam berbagai kejadian keracunan massal ini meliputi buruknya metode penyimpanan serta jeda waktu terlalu lama sebelum makanan dikonsumsi.
Dinamika negatif tersebut perlahan mulai menggerus tingkat kepercayaan publik terhadap program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam meningkatkan gizi anak bangsa.
Hasil survei lembaga riset independen pada pertengahan tahun ini menunjukkan mayoritas masyarakat merasa kurang puas akibat tingginya risiko kesehatan yang mengancam para siswa.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok