Repelita Jakarta - Peluncuran buku bertajuk Buku Islam ala Prabowo yang mengulas rekam jejak keislaman presiden menuai beragam tanggapan tajam di linimasa media sosial.
Buku yang membedah nilai-nilai kepemimpinan tersebut sebelumnya resmi diperkenalkan di ibu kota pada hari Selasa, 26 Agustus 2025 lalu oleh sejumlah pemuka agama terkemuka.
ADVERTISEMENT
Di tengah apresiasi yang disampaikan kalangan ulama, gelombang perdebatan justru mencuat di kalangan warganet terkait esensi dari penerbitan karya tulis tersebut.
Sebagian pengguna internet melontarkan pertanyaan kritis ihwal alasan mengapa kehidupan keberagamaan seorang pemimpin negara perlu dikemas khusus lewat buku pujian.
Bahkan, sejumlah komentar miring sempat dialamatkan kepada tokoh agama yang hadir dengan tudingan miring mengejar kepentingan duniawi semata akibat terlalu sering memuji penguasa.
Kendati pandangan miring tersebut sekadar opini digital tanpa dasar bukti kuat, dinamika itu mencerminkan kegelisahan publik terhadap batas relasi antara agama dan kekuasaan.
Dalam tatanan ideal, kalangan pemuka agama semestinya memegang posisi moral yang independen sebagai penyeimbang kebijakan alih-alih sekadar pemberi stempel legitimasi politik.
Hubungan harmonis dengan istana dinilai tidak boleh meredupkan keberanian nurani ulama untuk melontarkan kritik objektif tatkala kebijakan negara merugikan rakyat.
Publik menilai batas tipis kerap tersamar ketika simbol-simbol keagamaan justru diposisikan sebagai alat pencitraan kekuasaan alih-alih kompas moral bagi penyelenggara negara.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok