Repelita Jakarta - Gelombang demonstrasi massa yang mempertemukan elemen orang tua murid dengan barisan kelompok intelektual muda di jalanan ibu kota mencerminkan adanya akumulasi kegelisahan sosial yang mendalam.
ADVERTISEMENT
Langkah solidaritas ini dilandasi oleh besarnya rasa kekhawatiran bersama terhadap masa depan jaminan ruang hidup serta kelestarian ekologis bagi generasi penerus bangsa.
Aksi penyampaian ekspresi sosiopolitik yang menyita perhatian puluhan ribu pasang mata tersebut dilaporkan secara berkala melalui unggahan akun media sosial Threads milik narayahanafia.
Catatan digital dari perwakilan elemen keluarga itu menegaskan bahwa keterlibatan mereka dalam aksi massa bukan didasari oleh motif kebencian doktrinal melainkan wujud rasa cinta yang murni terhadap tanah air.
"Kita semua, yg memiliki anak2 pasti seperti ini ..
Itu juga jadi alasan kenapa para Ibu dan Ayah turun ke jalan bersama mahasiswa.
Jika ada yg bilang bahwa kami seperti itu karena benci pada negara, itu salah besar.
Kami turun ke jalan karena cinta kami, spt kami mencintai anak2 kami maka tanah air ini adalah Ibu utk kami.
Please, tanpa ada kesadaran kita tdk akan mampu berbuat apapun utk mendapatkan cahaya perubahan.
Sadarlah teman2..
Kita sdg dijajah oleh bangsa kita sendiri," tulis akun narayahanafia dalam rincian takarir utamanya pada hari Kamis tanggal lima November tahun dua ribu dua puluh enam.
Pernyataan emosional mengenai situasi penindasan internal struktural tersebut segera memicu rentetan tanggapan dari netizen lainnya yang mengeluhkan hancurnya tatanan ekonomi makro.
Masyarakat sipil menilai beban hidup kedepan kian meroket akibat penerapan regulasi perpajakan yang dinilai mencekik daya beli di tengah maraknya kerusakan kawasan lingkungan hidup.
"Iya Bang, melihat lingkungan yg terus dirusak, penegakan hukum tidak berjalan, pajak menggila, ekonomi hancur, kita sekarang aja struggle banget untuk sekedar hidup, la apa yg kita tinggalkan untuk anak2 dan generasi penerus," sahut akun yoghurt_zulia pada kolom interaksi siber.
Sentimen serupa juga dilayangkan oleh kalangan ibu rumah tangga yang mengaku dilanda rasa keputusasaan luar biasa saat merefleksikan jaminan kebutuhan dasar di masa depan.
Warganet mengkhawatirkan hilangnya hak-hak mendasar anak seperti ketersediaan kualitas air bersih, proteksi kawasan hutan alam, hingga kelangsungan hidup fauna endemik orisinal nusantara.
"As a mom of 4yo aku juga baru tahun ini, nangis mikirin sikon Indonesia.
30 tahun hidup, ga pernah se hopeless ini.
Masa depan anak² gimana?
Udara dan air yg mereka hirup kedepannya akan bagaimana?
Kedepa mereka ekonomi nya bagaimana?
Hidupnya bagaimana?
Apa mereka masih punya hutan?
Apakah mereka masih bisa melihat binatang endemik khas Indonesia?
Dan masih banyak lagi.
Sedih aja kita harus khawatir ttg hal yg sebenarnya basic, tapi itulah realita nya," papar akun bainiitn meluapkan keresahannya.
Sejumlah analis sosiologi siber mengidentifikasi adanya kegagalan struktural sistem pendidikan nasional dalam menanamkan kesadaran kritis sejak era kepemimpinan satu dekade lalu.
Dampaknya, generasi muda hari ini dipaksa memikul beban penyelesaian krisis roadmap ekonomi yang dirusak oleh kepentingan politik sesaat demi memenangkan pertarungan narasi.
"Musuh kita hari ini bukan bangsa lain, tp ketidakadilan dari dlm sendiri yg bikin rakyat makin susah.
Kl bukan kita yg peduli sm masa depan generasi berikutnya, siapa lagi?," tutur akun megah_alfisyahrin yang dikutip persis tanpa pengubahan.
Gerakan perlawanan moral di panggung digital ini dipastikan terus bergulir tanpa jeda seiring menguatnya desakan reformasi birokrasi secara menyeluruh dari berbagai penjuru daerah.
Elemen masyarakat menegaskan komitmennya untuk terus mengawal jalannya penegakan hukum yang berkeadilan demi membersihkan aparatur negara dari oknum perusak kedaulatan bangsa.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads