Repelita Jakarta - Pembelian puluhan ribu motor listrik oleh Badan Gizi Nasional (BGN) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan tajam publik karena dinilai tidak sesuai dengan tujuan utama program yang seharusnya fokus pada peningkatan gizi anak sekolah, balita, ibu hamil, dan menyusui.
Klaim sukses dari Kepala BGN Dadan Hindayana yang menyebut program MBG turut mendongkrak penjualan sepeda motor nasional hingga 4,9 juta unit dan membuat 60 persen pegawai SPPG mampu membeli motor baru justru memicu pertanyaan besar dari berbagai kalangan.
ADVERTISEMENT
Data resmi menunjukkan bahwa BGN menganggarkan Rp1,2 triliun untuk membeli sepeda motor listrik pada 2025, dengan harga per unit mencapai Rp49,95 juta untuk tipe JVH Max dan Rp48,84 juta untuk tipe JVH GT melalui e-Katalog LKPP.
Penelusuran lebih lanjut menemukan bahwa website Emmo Mobility baru mengunggah brosur kedua model motor tersebut pada 18 Februari 2026, sementara perusahaan mengklaim berdiri tahun 2025 dan memiliki 50 dealer resmi namun tidak ditemukan satu pun di Google Maps.
Fakta lain yang mencurigakan adalah hak paten desain industri motor ini baru didaftarkan pada 17 Oktober 2025, padahal proses pengadaan sudah rampung sekitar 14 Oktober 2025.
Publik mempertanyakan apakah pembelian ribuan motor listrik seharga hampir Rp50 juta per unit benar-benar menjadi prioritas untuk program gizi atau justru menjadi contoh pemborosan di tengah niat mulia meningkatkan nutrisi masyarakat.
Total belanja BGN sepanjang 2025 mencapai Rp6,2 triliun dengan 1.089 paket pengadaan, dimana pos terbesar justru untuk kendaraan sewa mobil dan pembelian motor listrik sebesar Rp1,39 triliun.
Kepala BGN Dadan Hindayana membenarkan pembelian 25.000 unit motor listrik tersebut dan mengaku akan mencatatnya sebagai Barang Milik Negara sebelum didistribusikan ke Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).(*)
Editor: 91224 R-ID Elok