Repelita Jakarta - Jalannya persidangan di Mahkamah Konstitusi mengenai polemik dokumen persyaratan pencalonan wakil presiden memicu dinamika opini baru di media sosial pada tanggal 6 Oktober 2026.
Situasi pascaputusan tersebut disorot tajam oleh akun @maroef_irfhany melalui sebuah tulisan terbuka di dunia maya.
ADVERTISEMENT
Dalam bagian awal unggahannya, ia menuliskan narasi situasi berupa "Terpikir MK tidak mendiskualifikasi Gibran, termul sorak sorai sampai Andi Azwan diarak bagaikan Pahlawan menang perang".
Ia kemudian melontarkan sebuah kiasan kritis terkait proses penanganan perkara hukum tersebut.
Kalimat sindiran politik yang ia sampaikan berbunyi "Simpan dulu tawamu kawan, putusan sidang MK malam ini bagaikan kirimkan paket Gibran ke lembaga lain untuk proses diretur karena isinya tidak lagi sesuai spek yang diminta".
Sebagai penutup opini pembukanya, ia menambahkan kalimat prediktif yang menuliskan "Kapan ? Sabar mul, kasih kesempatan kalian euphoria dulu sebelum pecah tangismu".
Pada lembar utas berikutnya, akun @maroef_irfhany menyematkan sebuah tulisan sindiran yang sangat pendek.
Cuitan di lembar kedua tersebut berbunyi secara singkat "Tahun 2029 Titel Gibran LC".
Pernyataan dari akun tersebut langsung memancing ketertarikan para pengguna internet lain untuk ikut berkomentar di kolom digital.
Kekecewaan terhadap kualitas perdebatan publik disampaikan oleh akun @prajogi09 secara terbuka.
Netizen tersebut mengutarakan pandangan sinisnya dengan menulis "Mau heran tapi ini konoha dengan SDM rendah setingkat IQ 85 Gorila 🥴 Nonton saja sampai akhir dari drama kekonyolan dan ke tololan ini akan berakhir seperti apa nantinya 😊".
Sementara itu, akun @happy_gunawan mencoba memberikan analisis dari perspektif perbedaan sistem regulasi pendidikan.
Ia menuliskan tanggapan hukum administrasi secara mendetail berupa "Gibran harus ikut Paket C jikalau ingin mencalonkan diri lagi di Pilpres 2029. 🤠Di Indonesia memang syarat masuk Universitas (Program Diploma dan Sarjana) harus lulus SMA. Di luar negeri tidaklah demikian. Makanya Gibran bisa melenggang menyelesaikan Program Diploma dan S1 nya."
Ulasan mengenai akar kendala administratif tersebut ia kunci pada bagian akhir tanggapannya.
Kalimat penutup analisis netizen tersebut berbunyi "Sistem pendidikan yang berbeda inilah yang menjadi batu sandungan bagi Gibran. Karena dianggap tidak memenuhi syarat pencalonan calon presiden/wapres."(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads