Repelita [Jakarta] - Seorang menteri kabinet pemerintahan mendadak menjadi pusat perhatian khalayak ramai setelah rekaman visual pidatonya yang memperlihatkan emosi mendalam beredar luas di berbagai platform internet.
Momen penuh keharuan tersebut terjadi ketika pejabat tinggi negara itu menghadiri agenda pertemuan pegiat lingkungan di wilayah kabupaten bagian timur provinsi Jawa Timur pada rentang akhir pekan lalu.
ADVERTISEMENT
Dalam tayangan berdurasi singkat yang menarik perhatian warganet, ekspresi kesedihan tampak jelas terlihat dari gestur tubuh serta suara bergetar saat memberikan pembelaan terhadap salah satu program prioritas kepemimpinan nasional.
Ketegasan sikap yang disertai cucuran air mata diperlihatkan secara langsung di hadapan para hadirin guna menyatakan kesiapan berdiri di barisan terdepan.
"Kalau Anda menghardik program orang yang lapar diberi makan (MBG), Anda berhadapan dengan saya," ujar Jumhur dalam cuplikan video yang beredar.
Ungkapan pembelaan tersebut dilandasi oleh pandangan bahwa penyediaan suplai gizi bagi warga yang membutuhkan merupakan kebijakan mulia yang tidak sepatutnya menuai kecaman.
"Yang jadi subjek program MBG ini yaitu untuk memberi makan orang-orang yang kelaparan begitu kronis. Itu kan mulia. Kenapa itu marah-marah," lanjutnya.
Penyebaran rekaman tersebut memicu gelombang tanggapan beragam dari para pengguna dunia maya dengan berbagai sudut pandang kritikan.
Akun X @Uniliswara0 turut membagikan ulang tayangan tersebut disertai kalimat pengantar spesifik.
“Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menangis sesenggukan membela MBG”
Pengelola akun tersebut juga melontarkan pertanyaan lanjutan dalam unggahannya.
“SPPG ada berapa?”
Berbagai komentar bernada miring turut membanjiri kolom tanggapan dari para pengguna media sosial lainnya.
"Takut gak ada lagi pemasukan ya," tulis akun @syafirrasy.
"Heran sih. Tuh kenapa pakai acara termehek-mehek," komentar akun @senyum_manis0.
"Punya dapur kah?" tulis akun @nerujakkk.
Rangkaian diskusi daring mengenai aksi emosional pejabat negara tersebut masih terus bergulir di tengah masyarakat luas.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok