Repelita Jakarta - Di tengah polemik ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo, dinamika di antara pihak-pihak yang sebelumnya berada dalam satu barisan turut menjadi sorotan publik.
Dokter Tifauzia Tyassuma menyampaikan curahan hatinya kepada Rismon Sianipar, yang kini mengambil arah berbeda setelah mengakui keaslian ijazah S1 Jokowi.
ADVERTISEMENT
Tifa menggambarkan perjalanan yang tidak selalu berjalan lurus selama proses polemik panjang tersebut berlangsung.
"Rismon, jalan yang kita pilih ternyata bukan jalan lurus. Ia berkelok. Ia gelap. Ia penuh jebakan," ujar Tifa dikutip fajar.co.id pada Minggu (12/4/2026).
Ia menyinggung perubahan yang terjadi, termasuk sikap orang-orang yang sebelumnya berada dalam satu perjuangan yang sama.
"Dan yang paling menyakitkan, kadang bukan musuh di depan yang melukai, tapi perubahan arah dari mereka yang dulu berjalan di samping kita," tukasnya.
Ia mengaku masih menyimpan kegelisahan yang mendalam terkait sejumlah isu yang pernah dihadapi bersama di masa lalu.
"Ada satu bagian dari perjalanan ini yang sampai hari ini masih mengganjal, dan jujur saja, itu yang paling membuat hati ini terasa berat," tutur Tifa.
"Tentang ijazah Yamaguchi itu. Tentang surat keterangan kematian yang dikabarkan lawan kita," tambahnya.
Menurut Tifa, kondisi tersebut telah menempatkan Rismon dalam situasi yang sangat sulit dan penuh tekanan.
"Hal-hal yang, aku tahu, membuatmu berada dalam posisi yang tidak mudah. Mungkin kamu merasa terancam. Mungkin kamu merasa sendirian. Mungkin kamu takut," ucapnya.
Tifa juga mempertanyakan keputusan Rismon yang memilih untuk diam dan kemudian berbalik arah secara tiba-tiba.
"Tapi justru di situlah, seharusnya kamu kembali ke kami. Mengapa kamu tidak bicara. Mengapa kamu memilih diam, lalu berbalik arah?" cetusnya.
Ia menegaskan bahwa hubungan yang terjalin sebelumnya bukan sekadar rekan biasa, melainkan sudah seperti keluarga sendiri.
"Padahal sejak awal, kita berjalan bukan sebagai orang asing. Kita berjalan sebagai tiga sahabat," imbuh Tifa.
"Aku dan Mas Roy sudah menganggapmu sebagai adik, yang seharusnya bisa datang kapan saja, membawa beban seberat apa pun, tanpa takut dihakimi," sambung dia.
Ia menyebut perubahan sikap Rismon sebagai sesuatu yang sangat sulit diterima, terutama karena kini berada di posisi yang berseberangan.
"Kamu memilih jalan sendiri. Kamu menjauh. Dan pada titik tertentu, kamu berdiri di sisi yang berseberangan. Bahkan kamu sekarang memusuhi kami," jelasnya.
Tifa pun melontarkan pertanyaan yang selama ini dipendamnya terkait keputusan kontroversial sahabatnya tersebut.
"Dan di sinilah pertanyaan itu tak bisa lagi aku tahan. Mengapa kamu berkhianat?" timpalnya dengan nada emosional.
Meski merasa kecewa dan terluka, Tifa menegaskan bahwa apa yang dia ungkapkan bukan dilandasi amarah melainkan perasaan kehilangan yang mendalam.
"Namun satu hal yang harus kamu tahu, Kebenaran tidak pernah berubah, meski manusia bisa. Dan pintu untuk kembali pada kebenaran, tidak pernah tertutup," bebernya.
Menurut Tifa, seberat apa pun langkah yang telah ditempuh Rismon, selama masih ada keberanian untuk jujur maka selalu ada jalan untuk pulang.
Lebih jauh, ia mengingatkan kembali tentang kebersamaan indah yang pernah terjalin di antara mereka bertiga.
"Jika suatu hari nanti kamu kembali melihat ke belakang, ingatlah satu hal. Kita pernah menjadi tiga sahabat," tandas Tifa.
"Kita pernah berdiri di titik yang sama, dengan hati yang bersih, dan niat yang lurus. Tak akan bisa dihapus oleh apa pun," kuncinya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok