Repelita Jakarta - Sebuah klaim mengejutkan mengenai latar belakang penunjukan calon wakil presiden dalam pemilu lalu mencuat dan menjadi sorotan publik.
Mantan kepala negara dikabarkan menyebut adanya permintaan yang berulang kali agar putranya diizinkan menjadi pendamping dalam kontestasi politik nasional.
ADVERTISEMENT
Pernyataan yang memicu spekulasi hangat di kalangan masyarakat ini menyebar luas di ruang digital pada tanggal 10 Oktober 2026.
Informasi tersebut sebelumnya diunggah oleh akun @regar_op0sisi yang membagikan kronologi versi tertentu mengenai dinamika internal koalisi pemerintahan.
Dalam cuitan yang diunggah ke publik, akun tersebut memaparkan informasi sepihak mengenai pengakuan dari lingkaran dalam kekuasaan.
Netizen itu menuliskan narasi secara tertulis, "Jokowi mengakui 5 kali Prabowo meminta kepadanya, agar membolehkan Gibran menjadi cawapresnya."
Langkah permintaan yang intensif tersebut dilakukan dengan alasan strategis demi menjaga keutuhan kubu politik agar terhindar dari perpecahan internal.
Cuitan itu juga menambahkan adanya pesan khusus terkait konsekuensi logis di masa mendatang dengan menuliskan, "Alasannya agar koalisi tidak pecah. Jokowi juga mengingatkan kepada Prabowo jika kelak ada masalah, jangan menyalahkan Gibran."
Pihak pengunggah menduga bahwa percakapan krusial tersebut menjadi alasan utama di balik kunjungan bilateral yang dilakukan pada malam krusial peninjauan hukum tata negara.
Ia menuliskan pendapat pribadinya di ruang siber, "Dugaan saya tak meleset,inilah jawaban dari kedatangan Jokowi kekediaman presiden @prabowo pada malam MK membacakan putusan dari gugatan Deny Indrayana cs."
Silang pendapat serta reaksi skeptis langsung membanjiri kolom interaksi dan memicu diskusi panas di antara sesama pengguna platform media sosial X.
Seorang warganet mempertanyakan metode dan keakuratan penghitungan jumlah pertemuan formal yang diklaim telah berlangsung tersebut.
Pertanyaan kritis dilontarkan oleh akun @CahyoMahanani melalui komentarnya, "5 kali itu gimana ngitungnya ya? Pakai certificate of attendance atau dihitung lewat WA ?"
Merespons pertanyaan tersebut, sang pengunggah menegaskan bahwa informasi serupa juga telah dikonfirmasi oleh elite partai pengusung utama.
Akun @regar_op0sisi membalas argumen di kolom komentar dengan menuliskan tanggapan pendek, "Pengakuan Dasco juga gitu"
Namun, klaim sepihak mengenai permohonan jabatan pendamping ini langsung dibantah keras oleh pengguna internet lainnya yang menilai narasi tersebut tidak logis.
Sanggahan tersebut disampaikan oleh akun @dasco29287 yang menulis, "Ini sumber infonya dari siapa sih ? Kok Ngaco aja , Bpk Prabowo tidak mungkin minta² calon pendamping yg tidak berkualitaslah !!"
Sebagai jawaban atas keraguan itu, sumber rujukan sekunder dari media investigasi independen pun turut disebut dalam perbincangan digital.
Akun @regar_op0sisi kembali memberikan pembelaan singkat mengenai dasar klaimnya dengan mengetik kata, "Bocoralus tempo"
Di sisi lain, tuduhan miring mengenai adanya rekayasa komunikasi publik demi menghindari konsekuensi hukum pascajabatan juga disuarakan secara vokal oleh netizen.
Kecaman keras tersebut ditulis oleh akun @NHenryp29864 yang menegaskan, "WAWANCARA INI SUDAH DI SETTING ALIAS SINETRON. SUDAH LULUS SAYA.. TENTANG SELUK BELUK KEBOHONGAN JOKOWI. 100 % TIDAK PERCAYA. JOKOWI HANYA CARI2 CELAH AGAR TIDAK DI HUKUM. GIBRAN DAN JOKOWI."
Dinamika silang klaim antarkelompok pendukung di ruang siber ini mencerminkan masih tingginya tensi politik serta ketidakpercayaan publik terhadap narasi formal di lingkaran kekuasaan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
Jokowi mengakui 5 kali Prabowo meminta kepadanya, agar membolehkan Gibran menjadi cawapresnya. Alasannya agar koalisi tidak pecah. Jokowi juga mengingatkan kepada Prabowo jika kelak ada masalah, jangan menyalahkan Gibran. Dugaan saya tak meleset,inilah jawaban dari kedatangan Jokowi kekediaman presiden @prabowo pada malam MK membacakan putusan dari gugatan Deny Indrayana cs.
— Edy Bayo Regar (@regar_op0sisi) October 10, 2026