Repelita [Jakarta] - Sorotan publik mengemuka menanggapi aksi pejabat negara yang menggelar kegiatan selebrasi di kawasan Bundaran HI. Agenda tersebut dinilai amat bertolak belakang dengan ketatnya larangan yang diterapkan bagi mahasiswa saat hendak menyampaikan gagasan di ruang publik.
Perlakuan yang kontras tersebut menyulut ketersinggungan dari khalayak ramai. Diskriminasi penggunaan area publik untuk selebrasi elite dibanding penyampaian aspirasi rakyat dinilai mencederai rasa keadilan.
ADVERTISEMENT
Sejumlah pengguna jejaring sosial secara terbuka melayangkan protes keras terkait perbedaan perlakuan hukum di area publik tersebut.
Pada tanggal unggahan 18 Agustus 2026, akun paltiwest
mengkritik keras sikap tebang pilih para pejabat lewat pertanyaannya, "Kenapa Pejabat Boleh Pesta dan Happy2 di Bundaran HI sedangkan Mahasiswa Menyampaikan Aspirasi Dilarang?! Negara ini milik nenek moyang kalian ya Pejabat?!"
Tanggapan pedas turut diarahkan kepada elite politik yang dinilai tidak memiliki kepekaan sosial terhadap bencana yang sedang menimpa warga daerah.
Melalui kolom komentar, akun yi_arianto
menyindir pejabat pemerintah dengan mentag akun resmi, "@bahlillahadalia otak dipakai napa. Lihat rakyat di NTT sedang menghadapi bencana."
Perilaku pejabat yang membagikan barang atau bantuan dengan cara dilempar dari atas panggung juga menuai kekecewaan mendalam dari warganet.
Kritik tajam atas tata cara pembagian tersebut disampaikan oleh akun miumao72
yang merasa prihatin, "Muak banget lihatnya… kok yg dapat lemparan itu ga ngelempar balik dan kena-in pas mukanya. Warga juga jangan maulah dikasih2 sesuatu dengan cara dilempar begitu. Dianggap ikan di kolam kali dilemparin pelet buat dimakan. Kzl."
Kekecewaan masyarakat terus membuncah atas rangkaian selebrasi pejabat yang dinilai tidak merakyat. Publik mendesak agar pemerintah menghentikan aksi hiburan yang merendahkan martabat warga di tengah situasi sulit saat ini.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads