Repelita [Jakarta] - Unggahan lawas dari akun media sosial Partai Gerindra yang memuat kritikan tajam seputar kemerosotan nilai tukar mata uang domestik terhadap dolar Amerika Serikat kini kembali mencuat dan beredar luas di kalangan peselancar internet.
Saat volatilitas mata uang rupiah sempat menyentuh angka empat belas ribu per dolar pada masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo, pusat kendali digital partai tersebut secara lantang menuding hal itu sebagai cerminan ketidakmampuan rezim berkuasa dalam mengendalikan kestabilan moneter.
ADVERTISEMENT
Melalui penyampaian pandangan resminya yang dipublikasikan pada kisaran bulan Agustus 2015 silam, organisasi politik berlambang kepala garuda tersebut menegaskan poin kritiknya.
“Dolar Hampir Rp14.000, Tanda Kegagalan Pemerintah Pertahankan Momentum Pertumbuhan Indonesia.”
Bahkan, sosok yang kala itu menduduki posisi sebagai Wakil Ketua Umum Gerindra, Ferry Juliantono, sempat melontarkan pernyataan spekulatif bahwa apabila depresiasi menembus level lima belas ribu, maka sang kepala negara berpotensi meletakkan jabatannya.
Potongan narasi masa lalu tersebut kini justru berbalik arah menjadi komoditas cemoohan publik lantaran kondisi nilai tukar domestik saat ini terpantau mengalami kemerosotan yang jauh lebih parah.
Sontak saja, jejak digital yang kembali terangkat ke permukaan itu langsung diguyur oleh ribuan komentar bernada sindiran tajam serta ungkapan satire dari para netizen.
“Dulu Gerindra kritik pelemahan rupiah pas tembus Rp14.000. Sekarang lebih Rp18.000 ngga ada suaranya.”
“Ada salah satu tweet dari @Gerindra mengatakan rupiah mencapai Rp14.000 ia mengatakan kegagalan pemerintah. Nah sekarang rupiah di angka Rp18.000 artinya keberhasilan pemerintah kah?”
“Kata admin Gerindra: kan 14.000 tanda kegagalan pemerintah. Kalo 18.000 yaa gak gagal dong. Kecuali dari hari sekarang ke 14.000 lagi. Nah itu kegagalan pemerintah lagi 🤓”
Tidak sedikit pula kalangan pengguna media sosial yang melemparkan komparasi atas ketidakkonsistenan sikap politik parpol saat memegang peranan sebagai oposisi berbanding lurus ketika sudah masuk ke dalam sirkuit kekuasaan.
Menilik pada indikator perekonomian kontemporer, posisi nilai tukar rupiah memang sempat terombang-ambing hingga menembus angka di atas tujuh belas ribu lima ratus hingga delapan belas ribu per dolar Amerika Serikat.
Kondisi pelik ini otomatis memicu kepanikan massal di tengah masyarakat akibat membubungnya komoditas impor, keterbatasan bahan baku manufaktur, hingga lonjakan harga obat-obatan.
Di lain sisi, jajaran pengurus pusat partai yang kini bertransformasi menjadi poros utama penguasa pemerintahan terpantau masih memilih bungkam dan belum meluncurkan argumentasi tandingan.
Sengkarut komunikasi politik ini dinilai publik sebagai potret nyata dari fenomena ingatan pendek para elite partai politik terhadap komitmen perbaikan ekonomi yang pernah mereka suarakan dahulu.
Sampai dengan laporan informasi ini dirilis ke ruang publik, belum ada konfirmasi maupun tanggapan resmi dari pihak eksekutif Partai Gerindra terkait polemik cuitan lama mereka. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok
Gerindra: Dolar Hampir Rp 14.000, Tanda Kegagalan Pemerintah http://t.co/S2Uun6YJ1f #BeritaGerindra
— Partai Gerindra (@Gerindra) August 14, 2015