Repelita Jakarta - Gelombang ketidakpuasan publik mencuat di jagat maya menyusul adanya kebijakan pemberhentian pejabat kabinet secara mendadak oleh kepala negara.
Keputusan strategis mengenai pemberhentian sepihak tersebut dinilai mengabaikan nilai tata krama birokrasi pemerintahan karena dilakukan saat perwakilan negara sedang menjalankan tugas kedinasan di luar negeri.
ADVERTISEMENT
Kritik tajam dari masyarakat terkait gaya kepemimpinan nasional ini disebarluaskan oleh akun @alitt4mb3ng pada 7 Oktober 2026.
Sepertinya Presiden perlu belajar lagi etika di tingkat SD.
Anda seorang pemimpin, bukan preman jalanan yang main pecat seenaknya.
Orang lagi tugas negara di Amerika, bawa nama Indonesia, eh dicopot dari belakang tanpa tatap muka, tanpa etika.
Sudah dua kali mempertontonkan kegoblokan yang sama.
Jabatan boleh tinggi, tapi kalau etika dan kesopanan nol, moralnya patut dipertanyakan.
Kebijakan perombakan yang dianggap sepihak ini pun langsung mengundang perdebatan panas mengenai asas profesionalitas kabinet kerja.
Seorang netizen melalui akun @fauzanramdani11 memberikan sindiran tertulis asli atas ketimpangan perlakuan tersebut dengan menuliskan, "meanwhike,si bahlil,si pigai,mentri pariwisata ga tersentuh".
Sentimen negatif terhadap performa moral pimpinan juga dilontarkan secara berapi-api oleh sebagian besar pengguna media sosial.
Hal itu terlihat dari komentar spontan pemilik akun @sastra86306 yang menuliskan kekecewaannya berupa, "PRESIDEN GADUNGAN YG BEGITU ULAHNYA TDK PUNYA ETIKA JUGA 4D4B.".
Sorotan publik bahkan melebar pada gaya komunikasi formal di depan khalayak internasional yang dianggap mencerminkan watak asli sang pemimpin.
Pendapat tersebut diutarakan secara terbuka oleh pengguna akun @sonyaherlinatjoa melalui kalimat tertulis asli yang berbunyi, "Kalau dia ada etika, tdk akan pidato dgn kata2 kasar, krn dengan dia pidato, ucapannya itu di liat oleh mata seluruh dunia".
Kritik publik juga menyasar cara bertutur kata keseharian yang dinilai menjadi indikator utama dalam menilai kualitas kehormatan seseorang.
Penilaian tersebut dipertegas oleh opini dari akun @herisusantopriadi yang meninggalkan pesan singkat asli berbunyi, "Dari pembicaraan bs terlihat etika tata Krama seseorang".
Warganet lain menganggap bahwa perombakan ini merupakan bentuk pengalihan tanggung jawab atas kegagalan sistemik dari puncak pimpinan.
Asumsi tersebut disampaikan secara lugas oleh pemilik akun @rummatadody melalui respons tertulis asli yakni, "Presidennya yang bermasalah, mentri yang di copot.".
Pernyataan masa lalu sang pejabat pun kembali diungkit netizen sebagai bukti rendahnya nilai sopan santun dalam lingkaran kekuasaan.
Sindiran tajam itu diunggah kembali oleh pengguna akun @monaire32 dengan menuliskan kalimat pendek berupa, "Memang "NDASMU" tidak beradab".
Kekecewaan mendalam dari masyarakat bahkan berujung pada penilaian ekstrem yang menyamakan kedudukan pemimpin negara dengan pucuk pimpinan kelompok non-formal.
Tudingan keras tersebut dilayangkan secara bebas oleh pemilik akun @pilot_gundams dengan menuliskan testimoni asli berupa, "ini bukan presiden...dia pemimpin ormas lebih pantas".
Masyarakat digital pun mulai merinci jajaran pembantu presiden yang dianggap tidak memberikan kontribusi nyata namun tetap aman di posisinya.
Kemarahan tersebut diluapkan secara gamblang oleh pengguna akun @rzwtiest melalui ketikan teks asli yang berbunyi, "Pigai,raja juli,Bahlil,menteri lansia PU gak tau namanya ITU SEMUA YG TIDAK BERGUNAAAA!!!!".
Fenomena bertahannya sejumlah pejabat tertentu pun disinyalir kuat karena adanya benteng politik dari pihak luar yang menyandera independensi pimpinan.
Kecurigaan itu ditutup oleh komentar dari akun @sitianajah yang meyakini keterikatan tersebut dengan menuliskan kalimat asli berupa, "Mentri titipan semua itu gak bakal berani lh".(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads