Repelita Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengakui belum melakukan uji sampel terhadap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) karena terkendala keterbatasan anggaran yang tersedia.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyatakan bahwa prosedur pengambilan sampel sebagai langkah pencegahan keracunan massal tersebut belum dapat dilaksanakan hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
Penyebab utama dari ketidakmampuan melakukan uji sampel tersebut adalah belum tersedianya anggaran khusus untuk kegiatan pengawasan di lapangan.
Pengambilan sampel dan seluruh proses pengujiannya membutuhkan dana yang hingga kini belum turun sehingga BPOM tidak bisa berbuat banyak.
Hal itu disampaikan Taruna dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Jakarta pada Senin, 20 April 2026.
Taruna menjelaskan secara rinci bahwa seharusnya ada tiga sumber pendanaan yang bisa mendukung kegiatan pengawasan MBG oleh lembaganya.
Pertama, dari DIPA BPOM hanya tersedia anggaran sebesar Rp 2,9 miliar padahal kebutuhan awal yang diajukan mencapai puluhan miliar rupiah.
Kedua, anggaran yang diajukan BPOM langsung kepada presiden sebesar Rp 196 miliar tetapi tidak bisa dipakai karena harus dikembalikan kepada menteri keuangan.
Ketiga, anggaran swakelola yang semula Rp 700 miliar kini menyusut menjadi Rp 675 miliar dan belum dapat dicairkan hingga detik ini.
Sampai saat ini, anggaran sebesar Rp 675 miliar itu belum bisa digunakan karena BPOM masih menunggu tahapan administrasi berikutnya.
Situasi ini memicu reaksi keras dari warganet di media sosial X, terutama dari akun @lantip yang menyoroti ketimpangan alokasi anggaran.
Dalam cuitannya pada 20 April 2026, @lantip menuliskan: "buat mbg per hari, unlimited anggarannya. buat uji sampel, gak ada anggaran. istilahnya dalam bahasa inggris: ramashokk"
Cuitan tersebut langsung mendapat tanggapan dari akun @woodena… yang membalas dengan sindiran tajam terkait prioritas anggaran pemerintah.
Pemikir Biasa @woodena… menulis dalam balasannya: "Ramashookk blass mas.. Bisa beli semir dan sikat sepatu harga milyaran,masak uji sampling aja Ndak ada dana?"
Sindiran tersebut merujuk pada kontroversi anggaran pembelian semir dan sikat sepatu yang disebut-sebut mencapai miliaran rupiah di tengah keterbatasan dana untuk uji sampel MBG.
Ketimpangan antara anggaran harian program MBG yang tidak terbatas dengan anggaran uji sampel yang nihil menjadi sorotan tajam publik.
Warganet menilai bahwa prioritas pemerintah dalam mengalokasikan anggaran dinilai timpang dan tidak berpihak pada aspek keamanan pangan.
Program MBG yang berjalan masif tanpa pengawasan ketat dikhawatirkan berisiko tinggi terhadap kesehatan masyarakat penerima manfaat.
BPOM sebenarnya memiliki kewajiban untuk melakukan pengawasan preventif guna mencegah kemungkinan terjadinya keracunan massal akibat makanan bergizi gratis tersebut.
Namun tanpa adanya kepastian anggaran, seluruh upaya pengawasan terpaksa dihentikan sementara hingga ada kejelasan dari pemerintah pusat.
Taruna berharap ada perhatian serius dari pemerintah terkait kebutuhan anggaran pengawasan ini mengingat pentingnya aspek keamanan pangan.
Publik pun menunggu langkah konkret pemerintah untuk segera mengalokasikan dana yang diperlukan agar BPOM bisa menjalankan fungsinya dengan baik.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
buat mbg per hari, unlimited anggarannya.
— lantip (@lantip) April 21, 2026
buat uji sampel, gak ada anggaran.
istilahnya dalam bahasa inggris: ramashokk https://t.co/FcQwL6tSO2