Repelita Jakarta - Kisah perjuangan seorang anak pengemudi ojek online penyandang disabilitas yang bercita-cita menjadi anggota polisi viral di media sosial pada awal Mei 2026 dan menyita perhatian publik secara luas.
Dalam video berdurasi 54 detik yang beredar di berbagai platform, seorang ojol bernama Riswan menyampaikan harapannya agar sang anak, Mochammad Radit Wibawa, dapat lolos seleksi Bintara di Polda Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
“Dalam video ini, saya ingin mengutarakan cita-cita anak saya untuk menjadi anggota Polri. Saya sangat berharap semoga anak saya bisa lolos dan mengabdi untuk bangsa dan negara,” ujar Riswan dengan suara haru.
Ia juga menitipkan harapan kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo agar memberikan kesempatan yang adil bagi anak-anak dari keluarga sederhana.
Mochammad Radit Wibawa diketahui berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi yang sangat berat.
Ayahnya bekerja sebagai pengemudi ojek online meskipun sedang dalam kondisi disabilitas yang membatasi geraknya.
Kisah Radit menjadi sorotan karena menunjukkan semangat juang yang luar biasa tinggi untuk menembus seleksi ketat institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Meskipun hidup dalam keterbatasan finansial, tekad Radit untuk mengabdi kepada negara tidak pernah surut sedikit pun.
Dukungan dari masyarakat pun terus mengalir deras dengan harapan bahwa proses seleksi berjalan transparan dan adil.
Publik berharap tidak ada diskriminasi latar belakang sosial dalam penerimaan anggota Polri.
Sorotan publik terhadap kisah Radit ini juga memicu respons dari Koalisi Keadilan yang peduli pada reformasi institusi kepolisian.
Mereka menilai perjuangan Radit menjadi simbol penting dalam mendorong reformasi sistem rekrutmen Polri secara menyeluruh.
Koordinator Koalisi Keadilan, Fuad Adnan, menegaskan bahwa institusi kepolisian harus membuka ruang pengabdian yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Kisah Radit menjadi harapan sekaligus ujian bagi Polri. Apakah reformasi benar-benar memberi keberpihakan kepada rakyat kecil,” ujarnya dengan nada penuh makna.
Ia menekankan bahwa Polri tidak boleh hanya menjadi tempat bagi kalangan tertentu yang memiliki akses dan modal.
Polri harus menjadi rumah pengabdian bagi semua anak bangsa termasuk mereka dari keluarga kurang mampu.
“Polri tidak boleh hanya diisi anak pengusaha atau kalangan elite. Ini harus menjadi ruang pengabdian bagi anak-anak dari keluarga miskin,” tegas Fuad Adnan.
Kisah ini memperkuat harapan publik agar proses rekrutmen anggota Polri benar-benar menjunjung prinsip meritokrasi.
Prinsip meritokrasi berarti mengutamakan kemampuan dan integritas seseorang bukan latar belakang keluarga atau kekayaan.
Perjalanan Radit kini menjadi simbol universal bahwa mimpi untuk mengabdi kepada negara seharusnya terbuka bagi siapa saja.
Setiap anak bangsa yang memiliki tekad dan kemampuan harus diberi kesempatan yang sama.
Tidak boleh ada penghalang berupa kondisi ekonomi maupun status sosial dalam meraih cita-cita menjadi abdi negara.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok