Berita, Nasional

Turun Gunung ke PSI, Blunder Politik Jokow Dinilai Gagal Beri Dampak Signifikan sebagai Dewan Pembina PSI

Repelita.id

28 June 2026 21:35 WIB

Turun Gunung ke PSI, Blunder Politik Jokow Dinilai Gagal Beri Dampak Signifikan sebagai Dewan Pembina PSI
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Keputusan politik Joko Widodo untuk terjun mendukung Partai Solidaritas Indonesia menuai beragam sorotan publik yang kian skeptis.

Banyak pihak mulai mempertanyakan urgensi serta efektivitas dari manuver yang dilakukan mantan kepala negara tersebut.

ADVERTISEMENT

Direktur Pusat Riset Politik, Hukum, dan Kebijakan Indonesia, Saiful Anam, menilai posisi Jokowi di struktur partai saat ini belum cukup memberikan dampak signifikan.

"Dengan posisi hanya sebagai dewan pembina, pengaruh Jokowi dinilai tidak akan maksimal jika dibandingkan bila ia memegang kendali langsung sebagai ketua umum," ujar Saiful, Minggu (28/6/2026).

Menurutnya, jabatan yang bersifat simbolik tersebut sulit untuk menggerakkan mesin partai agar mampu melakukan penetrasi politik secara luas.

"Maka wajar jika muncul anggapan bahwa peran tersebut terlalu kecil untuk figur sekelas Jokowi yang pernah berada di puncak kekuasaan nasional," tegasnya.

Saiful juga menyoroti potensi penurunan kepercayaan masyarakat apabila agenda politik pasca-jabatannya tidak disampaikan dengan transparan.

"Di titik ini, muncul kesan bahwa langkah 'turun gunung' ini setengah hati. Terlalu besar jika hanya untuk peran simbolik, namun juga terlalu kabur jika tidak disertai tujuan politik yang jelas," urai Saiful.

Ia menekankan bahwa pemilih di era sekarang jauh lebih cermat dalam menilai motivasi di balik setiap tindakan tokoh nasional.

"Tanpa itu, setiap langkah politik (Jokowi) akan selalu dibaca sebagai bagian dari agenda tersembunyi, bukan pengabdian murni," ucapnya.

Manuver ini bahkan dikhawatirkan dapat merusak norma etika politik mengenai bagaimana seorang mantan pemimpin seharusnya bersikap setelah takhta dilepaskan.

"Seorang mantan presiden seharusnya mampu menunjukkan keteladanan dalam melepaskan kekuasaan secara elegan, bukan justru terus berada di orbitnya tanpa kejelasan peran," sindir Saiful.

"Jika tidak, maka publik akan terus mempertanyakan: ini tentang negara, atau sekadar perpanjangan pengaruh?" pungkasnya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung