Repelita Jakarta - Pengamat politik sekaligus akademisi Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun menyoroti frekuensi perombakan kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto.
Hal itu disampaikan dalam diskusi bertajuk Membedah Reshuffle Kabinet: Kepentingan Rakyat atau Elit di kawasan Jakarta Selatan, Sabtu 3 Oktober 2026.
ADVERTISEMENT
Diskusi tersebut turut disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Bang Edy Channel.
Menurut Ubedilah Badrun, perombakan kabinet sudah terjadi tujuh kali dalam dua tahun masa pemerintahan.
Jumlah itu dinilai lebih banyak dibandingkan periode dua tahun pemerintahan sebelumnya.
Ubedilah Badrun menyatakan, “Reshuffle kemarin membuktikan pernyataan saya sebelumnya bahwa Rocky Gerung adalah antek-antek Prabowo.
Kemudian, ini reshuffle terbanyak dibanding dua tahun era Jokowi.
Ini baru dua tahun sudah tujuh kali.
Jadi memang reshuffle yang berkali-kali itu sebetulnya menunjukkan bahwa presiden kurang atau tidak punya kapasitas untuk merekrut orang-orang terbaik dalam menangani persoalan.
Jadi kapasitas mencari orang tepat untuk menjalankan Asta Cita itu gagal.
Mengulang berulang kali.
Sampai tujuh kali.”
Ia juga menilai langkah merangkul berbagai kelompok politik mencerminkan keraguan dalam menjalankan agenda pemerintahan.
Ubedilah Badrun mengungkapkan, “Menggalang kelompok-kelompok yang masuk koalisi dengan berbagai orang itu sebetulnya menunjukkan Prabowo sedang mengalami insecurity.
Jadi, dia agak ragu melangkah untuk orang-orang yang banyak untuk masuk ke dalam barisan.”
Selain itu, ia menyoroti persoalan kepercayaan publik yang semakin menurun.
Menurutnya, negara dijalankan bukan dengan cara jujur dan mengutamakan kepentingan publik, melainkan dipandu kepentingan pragmatis.
Ubedilah Badrun menegaskan, “Saya sekali lagi mengatakan bahwa negara ini dijalankan bukan dengan cara yang jujur, dengan kerja-kerja ilmu pengetahuan yang tepat, dan mengutamakan kepentingan publik.
Tapi jalannya kekuasaan justru dipandu oleh kepentingan yang sangat pragmatis.
Itu yang kemudian membuat kepercayaan publik juga makin parah pada kekuasaan ini.”
Ia menambahkan bahwa upaya pemberantasan korupsi masih terkesan tidak serius dan hanya sebatas jargon.
Ubedilah Badrun menutup, “Tapi ini kan enggak serius menurut saya.
Cuma bunga-bunga aja.
Jargon, dan bahkan jargonnya sangat provokatif, kan gitu tapi itu enggak dijalankan secara serius.”
(*)
Editor: 91224 R-ID Elok