Berita, Timur Tengah

Trump Klaim Kemenangan Total Usai Gencatan Senjata dengan Iran

Repelita.id

08 April 2026 17:18 WIB

Trump Klaim Kemenangan Total Usai Gencatan Senjata dengan Iran
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Donald Trump buru-buru mengklaim "kemenangan total" hanya beberapa saat setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan.

Kesepakatan penghentian serangan ini muncul menjelang tenggat yang sebelumnya dipasang Trump untuk menekan Teheran, dan diumumkan kurang dari dua jam sebelum batas waktu yang dia tetapkan sendiri berakhir.

ADVERTISEMENT

Presiden Amerika Serikat itu menyatakan setuju menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua minggu, dengan syarat utama Teheran membuka kembali Selat Hormuz secara penuh, aman, dan segera.

Dalam wawancara setelah pengumuman itu, Trump mengklaim Washington telah menang mutlak dengan menyebutnya sebagai "Kemenangan total dan sepenuhnya. 100 persen. Tidak ada keraguan tentang hal itu."

Ia juga menyebut pemerintahannya sudah memiliki kerangka kesepakatan jangka panjang dengan Iran, bahkan mengklaim ada "transaksi 15 poin" yang sebagian besar sudah disepakati bersama.

Pernyataan itu langsung menegaskan bahwa Trump ingin menjual jeda perang ini sebagai kemenangan politik, bukan sekadar jeda militer di tengah ancaman eskalasi yang sempat mengarah pada serangan besar.

Masalahnya, Iran justru memakai narasi yang hampir sama hanya dengan sudut pandang berlawanan, di mana Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyebut pihaknya meraih "kemenangan besar".

Iran menilai lawan mereka menderita kekalahan yang "tak terbantahkan, bersejarah, dan telak", sehingga dua negara yang baru menyepakati gencatan senjata kini sama-sama sibuk mendeklarasikan diri sebagai pemenang.

Di titik ini, gencatan senjata dua pekan itu terlihat lebih seperti jeda taktis ketimbang akhir konflik, karena syarat utama pembukaan Selat Hormuz menyangkut jalur vital distribusi minyak dunia.

Reuters melaporkan bahwa ketentuan mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut masih menyisakan ketidakpastian, meski Washington mengklaim kerangka kesepakatan jangka panjang sudah ada.

Trump juga memberi sinyal bahwa ancaman kerasnya belum benar-benar dicabut, dan saat ditanya apakah dia akan kembali pada ancaman menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan sipil Iran, ia tidak memberikan jawaban tegas.

"Anda harus melihatnya sendiri," ujarnya, menunjukkan bahwa jeda dua minggu ini tetap dibayangi ancaman serangan baru sewaktu-waktu jika negosiasi gagal.

Jika melihat gaya komunikasi Trump yang kerap mengubah tekanan militer menjadi alat tawar politik, klaim "kemenangan total" ini tampaknya lebih ditujukan untuk panggung politik ketimbang sebagai penutup konflik.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung