Berita, Timur Tengah

Trump Dituding Bohong dan Mau Paksa Iran Menyerah, Ghalibaf Ancam Selat Hormuz Ditutup "Kami Tidak Takut Ancaman!"

Repelita.id

21 April 2026 18:05 WIB

Trump Dituding Bohong dan Mau Paksa Iran Menyerah, Ghalibaf Ancam Selat Hormuz Ditutup "Kami Tidak Takut Ancaman!"
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Ketegangan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas menjelang berakhirnya masa gencatan senjata dua pekan yang telah disepakati.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan pernyataan keras yang mengejutkan banyak pihak di kancah internasional.

ADVERTISEMENT

Ia menuduh Presiden AS Donald Trump berusaha mengubah meja perundingan menjadi meja penyerahan bagi kepentingan Iran.

Pernyataan ini disampaikan di tengah alotnya proses negosiasi tidak langsung yang dimediasi oleh pemerintah Pakistan di Islamabad.

"Trump berupaya mengubah meja perundingan ini menjadi meja penyerahan," ujar Ghalibaf dengan nada tegas.

Lebih lanjut, ia menegaskan sikap negaranya yang tidak akan pernah menerima perundingan di bawah bayang-bayang ancaman.

"Kami tidak menerima perundingan di bawah bayang-bayang ancaman, dan selama 2 minggu terakhir kami telah menyiapkan kartu-kartu baru di medan perang," tegasnya.

Ketegangan antara Ghalibaf dan Trump sebenarnya sudah memuncak sejak akhir pekan lalu.

Dalam sebuah unggahan di media sosial X pada Sabtu, 18 April 2026 dini hari, Ghalibaf secara terbuka menuduh Presiden AS membuat klaim-klaim palsu.

"Presiden Amerika Serikat membuat tujuh klaim dalam satu jam, ketujuhnya palsu," tulis Ghalibaf.

Ia menambahkan bahwa AS tidak akan pernah memenangkan perang dengan kebohongan-kebohongan semacam itu.

Mereka juga tentu tidak akan mendapatkan apa pun dalam proses negosiasi dengan cara-cara yang tidak jujur.

Pernyataan Ghalibaf ini merujuk pada serangkaian klaim Trump di Truth Social mengenai situasi Selat Hormuz.

Trump sebelumnya menyatakan bahwa Selat Hormuz sepenuhnya terbuka dan siap untuk dilalui kapal mana pun.

Ia juga mengklaim bahwa Teheran telah setuju untuk mengirimkan debu nuklirnya ke Amerika Serikat.

Salah satu poin paling kontroversial dari klaim Trump adalah mengenai nasib uranium yang diperkaya milik Iran.

Trump mengatakan kepada Reuters bahwa debu nuklir Iran akan diambil segera dan dibawa kembali ke AS.

Klaim ini langsung dibantah oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei.

"Uranium yang diperkaya Iran tidak akan dikirim ke mana pun; mengirimkan uranium ke Amerika Serikat tidak pernah menjadi pilihan bagi kami," tegas Baghaei.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa isu nuklir masih menjadi salah satu hambatan terbesar dalam proses negosiasi.

Para ahli meyakini bahwa Iran masih memiliki sejumlah besar uranium yang diperkaya hingga 60 persen.

Angka 60 persen tersebut merupakan langkah di bawah 90 persen yang diperlukan untuk membuat bom atom.

Sebelum serangan AS dan Israel pada Juni 2025, IAEA menghitung Iran memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya.

Sejak saat itu, nasib stok ini masih belum pasti karena Teheran menolak akses inspektur IAEA.

Dalam beberapa pekan terakhir, Teheran telah menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan militernya.

Komandan Angkatan Udara IRGC, Mayor Jenderal Majid Mousavi, mengklaim bahwa Iran telah memperbarui dan mengisi ulang peluncur rudal.

"Selama gencatan senjata, kecepatan kami dalam memperbarui dan mengisi ulang landasan peluncuran rudal dan drone bahkan lebih cepat daripada sebelum perang," ujar Mousavi.

"Kami tahu bahwa musuh tidak mampu menciptakan kondisi ini untuk diri mereka sendiri, dan mereka terpaksa membawa amunisi dari sisi lain dunia secara bertahap," paparnya.

Pada 12 April, TV pemerintah Iran melaporkan bahwa sejumlah besar rudal jelajah anti-kapal baru telah ditambahkan.

Secara total, 2.654 sistem militer termasuk rudal jarak jauh dan jarak menengah ditambahkan ke dalam persenjataan.

Drone untuk tempur dan pengintaian serta unit perang elektronik juga ikut ditambahkan dalam jumlah besar.

Juru bicara IRGC, Jenderal Hossein Mohebbi, juga memperingatkan bahwa Iran belum menggunakan semua kemampuannya.

"Kami belum menggunakan kemampuan kami, dan jika perang terus berlanjut, kami akan mengungkap kemampuan yang tidak diketahui musuh," tegas Mohebbi.

Salah satu kartu terpenting Iran adalah kontrolnya yang kuat atas Selat Hormuz.

Ghalibaf sendiri telah menegaskan bahwa selat tersebut tidak akan tetap terbuka selama blokade AS masih berlangsung.

"Dengan berlanjutnya blokade, Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka," tegas Ghalibaf.

Ia menjelaskan bahwa lintas melalui Selat Hormuz akan dilakukan berdasarkan rute yang ditentukan oleh Teheran.

Kontrol atas selat akan dilaksanakan dengan memperoleh informasi lengkap tentang kapal yang melintas.

Teheran juga akan menerbitkan sertifikat lintas sesuai ketentuan Republik Islam.

Gencatan senjata dua pekan antara Iran dan AS yang mulai berlaku pada 8 April akan segera berakhir.

Negosiasi putaran kedua yang dijadwalkan di Islamabad pada Senin (20/4) sempat diragukan kehadiran Iran.

Meskipun Trump mengklaim bahwa AS memiliki percakapan yang sangat baik dengan Iran, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya.

Teheran menyebut Washington melakukan pelanggaran berulang terhadap komitmen yang telah disepakati.

Mereka juga menuduh AS terlibat dalam pembajakan dan pencurian laut melalui kebijakan blokade.

Ghalibaf, dalam pidato televisi pada Sabtu (18/4), menggambarkan Iran sebagai pihak yang menang baik di darat maupun dalam diplomasi.

Ia menyebut pendekatan negaranya sebagai diplomasi kekuatan yang tidak kenal kompromi.

"Apakah selat terbuka atau tertutup dan peraturan yang mengaturnya akan ditentukan oleh medan, bukan oleh media sosial," tegas Ghalibaf.

Pernyataan ini tampaknya merujuk pada kebiasaan Trump mengumumkan kebijakan melalui platform Truth Social.

Dengan waktu yang semakin menipis dan kedua belah pihak masih bersikukuh pada posisinya, prospek perpanjangan gencatan senjata sangat tipis.

Iran telah menyiapkan kartu-kartu baru di medan perang untuk menghadapi kemungkinan terburuk.

Dunia kini hanya bisa menunggu apakah Trump akan menarik kembali ancamannya.

Atau justru eskalasi besar-besaran akan kembali terjadi di kawasan Timur Tengah.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok





TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung