Repelita Washington DC - Di tengah euforia yang belum sempat mereda, Presiden AS Donald Trump justru mengirimkan sinyal keras bahwa perang dengan Iran bisa kembali dilanjutkan kapan saja.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang diklaim Iran tidak sepenuhnya benar menurut versi Washington.
ADVERTISEMENT
Ia menyebut hanya ada satu versi perjanjian nyata yang diakui Amerika Serikat dan versi itu belum dipenuhi oleh Teheran.
Ketegangan semakin memuncak ketika serangan besar-besaran Israel kembali menghantam Lebanon dalam skala yang sangat mematikan.
Dalam satu hari, ratusan korban berjatuhan menjadikan serangan ini sebagai salah satu yang paling mematikan sejak konflik kembali memanas awal Maret lalu.
Kota-kota seperti Beirut dan Lembah Bekaa berubah menjadi tumpukan puing, sementara rumah sakit kewalahan menangani korban.
Bagi Iran, serangan Israel ke Lebanon ini bukan sekadar pelanggaran melainkan pengkhianatan terhadap semangat gencatan senjata yang telah disepakati.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata seharusnya berlaku secara regional, termasuk wilayah Lebanon.
Pernyataan itu diperkuat oleh mediator dari Pakistan, Shehbaz Sharif, yang sebelumnya menyebut gencatan senjata mencakup seluruh kawasan konflik.
Namun dari Washington muncul suara yang sangat berbeda di tengah ketegangan yang terus meningkat.
Wakil Presiden JD Vance menyebut adanya kesalahpahaman besar mengenai cakupan wilayah gencatan senjata.
Menurutnya, Amerika Serikat tidak pernah menyetujui penghentian konflik yang melibatkan milisi Hizbullah di Lebanon.
Di celah perbedaan tafsir itulah retakan mulai bermula ketika satu kesepakatan memiliki dua pemahaman yang saling meniadakan.
Trump bahkan melangkah lebih jauh dengan mengecam usulan 10 poin dari Iran sebagai klaim sepihak yang tidak bisa diterima.
Ia mengancam akan melancarkan serangan militer yang lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat jika Teheran tidak mematuhi persyaratan versi Amerika Serikat.
Pernyataan itu seperti mengetuk pintu perang yang belum benar-benar tertutup secara total.
Di sisi lain, Iran berjanji bahwa poin-poin kesepakatan yang diajukan mencakup hak pengayaan uranium dan pencabutan sanksi.
Dua hal tersebut selama ini menjadi inti perlindungan bagi kepentingan nasional Iran dalam setiap negosiasi.
Bagi Teheran, gencatan senjata bukan sekadar jeda pertempuran melainkan pintu menuju negosiasi yang setara dan bermartabat.
Sementara itu, Israel tetap melanjutkan operasi militernya di Lebanon tanpa menghiraukan kesepakatan yang telah dibuat.
Presiden Lebanon Joseph Aoun menyebut serangan itu sebagai pembantaian yang tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun.
Ia menekankan betapa mahalnya harga yang harus dibayar rakyat Lebanon dari ketidakjelasan diplomasi global.
Ironisnya, semua eskalasi ini terjadi hanya sehari sebelum pertemuan perdamaian dijadwalkan berlangsung di Islamabad.
Dunia kini menahan napas panjang menunggu apakah meja perundingan masih punya arti di tengah dentuman bom yang belum mereda.
Gencatan senjata yang seharusnya menjadi jeda kemanusiaan justru berubah menjadi medan pertarungan tafsir politik.
Di antara kata damai dan perang, yang tersisa hanyalah kewaspadaan global dan ancaman bahwa konflik ini belum mencapai titik akhirnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok