Repelita Islamabad - Negosiasi tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad kembali memanas setelah Selat Hormuz menjadi titik perdebatan utama dalam perundingan tersebut. Iran menegaskan tidak akan menerima kesepakatan apa pun tanpa pengakuan penuh atas kedaulatan mereka di jalur strategis itu.
Delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf menyampaikan sikap tegas tersebut sebelum memasuki ruang perundingan di Hotel Serena, Sabtu 11 April 2026. Mereka menyebut kontrol penuh atas Selat Hormuz sebagai syarat mutlak yang tidak dapat ditawar.
ADVERTISEMENT
Iran menilai Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan instrumen strategis ekonomi yang memiliki pengaruh besar terhadap pasar energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi wilayah tersebut sehingga posisi Iran dinilai sangat menentukan.
Sejak konflik yang disebut pecah pada akhir Februari 2026, Iran dikabarkan memperketat pengawasan di Selat Hormuz. Kapal tanker disebut hanya dapat melintas melalui koordinasi khusus dengan militer Iran dalam sistem pengawasan ketat.
Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC juga menegaskan bahwa status Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelumnya, terutama bagi Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan itu menjadi bagian dari posisi tawar Iran dalam perundingan yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, pihak Amerika Serikat melalui delegasi yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance menolak tuntutan tersebut. Washington menegaskan jalur pelayaran harus tetap terbuka tanpa syarat dan tanpa pungutan tambahan apa pun.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali dengan atau tanpa persetujuan Iran. Ia memperingatkan bahwa setiap upaya pembatasan akan ditolak oleh Washington.
Iran sendiri mengajukan sejumlah syarat dalam proposal 10 poin yang mencakup penarikan pasukan asing dari Timur Tengah, pencabutan sanksi ekonomi, hingga pengakuan hak pengayaan uranium untuk tujuan damai.
Sementara itu, Amerika Serikat membawa proposal 15 poin yang berisi tuntutan penghentian penuh program pengayaan uranium Iran, pembatasan rudal balistik, serta pengawasan ketat dari lembaga internasional.
Perbedaan tajam juga terjadi pada isu Selat Hormuz, di mana Washington menolak segala bentuk kontrol Iran terhadap jalur tersebut. Situasi ini memperlebar jarak negosiasi antara kedua pihak.
Ketegangan yang terjadi turut berdampak pada pasar energi global. Harga bahan bakar dilaporkan mengalami kenaikan signifikan sementara pasokan di beberapa wilayah mulai terganggu akibat ketidakpastian distribusi.
Dengan kedua pihak yang masih mempertahankan posisi keras, proses negosiasi diperkirakan akan berlangsung panjang dan penuh ketegangan. Masa depan Selat Hormuz kini menjadi penentu utama arah stabilitas kawasan dan ekonomi global.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
BREAKING:
— World Affairs (@World_Affairs11) April 11, 2026
Iran says it will not accept any deal with the US unless there is complete Iranian control and sovereignty over strait of Hormuz. pic.twitter.com/fvyTvU0eiX