Repelita Jakarta - Kemarahan mendalam melanda keluarga besar korban insiden keracunan massal program makan gratis di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.
Luapan emosi tersebut disampaikan langsung oleh ibu kandung dari siswi berprestasi yang mengalami gangguan kesehatan parah akibat hidangan bermasalah.
ADVERTISEMENT
Orang tua korban melontarkan protes keras ketika menghadiri rapat dengar pendapat bersama pihak legislatif daerah pada hari Senin, 7 September 2026.
Anak saya lah yang kena ginjalnya, di mana hati nurani kalian, terutama Kepala SPPG, bapak punya anak atau tidak, kata Elvinus Lusiana Sitanggang.
Pernyataan emosional tersebut terekam dalam sebuah video yang kini telah menyebar luas di berbagai platform media sosial sejak Selasa, 8 September 2026.
Ia mengungkapkan bahwa buah hatinya harus berulang kali dilarikan ke rumah sakit akibat komplikasi parah yang mengancam keselamatan jiwanya.
Ini anakku sekarang lemah di rumah, ini tentang nyawa, nyawa, anak saya sudah tiga kali bolak-balik rumah sakit, ujarnya dengan nada geram.
Pihak keluarga mendesak pihak penyelenggara program untuk memberikan jawaban terbuka mengenai zat berbahaya yang terkandung dalam makanan tersebut.
Sayalah yang viral di media sosial itu, yang menanyakan racun apa yang terdeteksi di ikan itu, sampai sekarang kami tidak tahu, kalian bungkam semua, bungkam, ucapnya.
Menurut keterangan keluarga, anak gadis mereka yang tadinya dikenal cerdas kini mengalami penurunan daya ingat drastis serta trauma psikologis mendalam.
Itu MBG bukan uang pribadi kalian kan, uang masyarakat kan, uang kami juga, tega banget ya meracuni anak-anak, sekarang kondisinya melihat keramaian pun takut, paparnya.
Terutama pihak SPPG, sampai mana pertanggungjawaban bapak, sambungnya menuntut kejelasan atas insiden yang menimpa para pelajar.
Dalam forum resmi tersebut, perwakilan aliansi masyarakat peduli daerah turut menyampaikan delapan tuntutan tegas kepada pemerintah serta aparat penegak hukum.
Masyarakat meminta agar seluruh biaya pengobatan para korban ditanggung sepenuhnya serta mendesak agar operasional program tersebut dihentikan sementara waktu.
Sementara itu, pihak kepolisian resor setempat berjanji akan bersikap transparan dan mempercepat proses investigasi untuk mengusut tuntas insiden tersebut.
Kami akan berbuat seobjektif mungkin untuk menyelesaikan masalah ini, kami sudah melakukan langkah-langkah untuk melakukan percepatan, kata Kapolres Karo AKBP Pebriandi Haloho.
Pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat agar senantiasa mengawal jalannya proses hukum agar transparan dan akuntabel tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Terima kasih atas dukungan, yang pasti, tolong bantu kami, awasi kami dalam proses penyelidikannya, saya juga alumni SMA Berastagi, katanya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok