Repelita Sanaa - Zionis Israel nampaknya akan terus berada dalam ketakutan alias tidak bisa hidup tenang imbas dari konflik mereka dengan Iran, karena sekutu Republik Islam itu kian gencar melancarkan serangan rudal pamungkas bersama Korps Garda Revolusi Islam.
Situasi ini tentu membuat Israel kepayahan menghadapi serangan dari berbagai front secara bersamaan tanpa henti.
ADVERTISEMENT
Tak hanya itu, posisi Zionis pun makin terjepit lantaran sekutu terkuat mereka yakni Amerika Serikat dikabarkan bakal angkat kaki dari zona perang dalam waktu dekat.
Di tengah perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, kelompok Houthi Yaman melayangkan ancaman baru yang semakin memperkeruh suasana.
Houthi memperingatkan bahwa pihaknya bisa bergerak untuk menutup Selat Bab el Mandeb jika negara-negara Teluk bergabung dengan serangan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran.
Kelompok Houthi mengeklaim kembali menembakkan rudal ke wilayah Israel pada Rabu (1/4/2026).
Houthi menyebut serangan itu diluncurkan secara bersama-sama dengan IRGC dan Hizbullah Lebanon.
Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa kelompoknya melakukan operasi militer ketiga yang menargetkan sasaran musuh Israel yang sensitif dengan rentetan rudal balistik.
Yahya Saree menambahkan bahwa operasi itu dilakukan secara terkoordinasi dengan Iran dan Hizbullah di Lebanon.
Serangan rudal pertama ke wilayah Israel diluncurkan tepat pada hari ke-30 perang Iran pada Sabtu (28/3/2026).
Sejak perang dimulai, kelompok Houthi menyatakan dukungan penuh untuk Teheran dalam menghadapi serangan Amerika Serikat dan Israel.
Militer Israel mengklaim telah berhasil menanggapi rudal yang dilancarkan dari Yaman dan warga diizinkan untuk meninggalkan ruang perlindungan di semua wilayah negara.
Media Israel melaporkan bahwa rudal tersebut berhasil dicegat dan tidak ada laporan mengenai korban jiwa atau kerusakan signifikan.
Ancaman terhadap jalur pelayaran strategis ini bakal semakin memperburuk ketidakstabilan ekonomi global setelah Teheran secara resmi menutup Selat Hormuz.
Dari Yaman, Houthi berpotensi mengganggu pengiriman barang melalui Laut Merah seperti yang telah mereka lakukan pada masa-masa sebelumnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok