Repelita [Jakarta] - Pengalaman seorang calon mahasiswa yang memilih mundur dari Kampus Pertahanan Indonesia akibat aturan penanggalan penutup kepala kini menyita perhatian khalayak luas.
A Wafa Ahdina menceritakan pengalamannya saat memperebutkan kursi di Fakultas Kedokteran Militer hingga sempat menyandang status peserta didik selama belasan jam.
ADVERTISEMENT
Keputusan melepas hak pendidikan diambil secara sadar usai dirinya dihadapkan pada syarat tak tertulis terkait penggunaan penutup kepala bagi peserta didik wanita.
Rangkaian instruksi untuk menanggalkan identitas keagamaan tersebut didapatkan Wafa melalui lima momen berbeda selama proses seleksi hingga pengesahan berkas.
Instruksi pertama muncul saat tahapan wawancara substantif pada 7 Juni 2026 bersama jajaran penguji serta perwakilan fakultas.
Ibu C: "Kamu kayaknya belum siap kalau harus lepas jilbab ya?"
Wafa: "Iya, ortu saya juga tidak mengizinkan."
Ibu C: "Begitu, ya. Sebelumnya sudah tahu belum?"
Wafa: "Pernah dengar."
Ibu C: "Terus, kenapa masih lanjut (tes pusat)?"
Wafa: "Saya pikir sudah ada kebijakan baru."
Petinggi FKM: "Hmm, kalau belum ada gimana dong?"
Wafa: "... berarti memang harus lepas jilbab dan belum ada kebijakan baru, ya?"
Petinggi FKM/Ibu C: "Ya, belum ada." / "Iya, aturannya begitu."
Penekanan serupa kembali terdengar tatkala pengawasan malam digelar di area asrama putri pada hari yang sama.
Pengawas: "Untuk cakadet yang berjilbab, apabila nanti kalian lolos, bersedia melepas jilbab?"
Cakadet Putri: "SIAP, BERSEDIA!"
Pengawas: "Kalian mau melepas jilbab kalian?"
Cakadet Putri: "SIAP, MAU!"
Pengawas: "Siap nanti rambutnya dipotong laki?"
Cakadet Putri: "SIAP!"
Kejadian berlanjut saat pemeriksaan fisik menyeluruh di ruang kesehatan kompleks kampus pada 8 Juni 2026.
Petugas penilai menegaskan bahwa seluruh peserta yang diterima diwajibkan memotong rambut serta melepaskan jilbab tanpa terkecuali.
Pengarahan pagi pada 24 Juni 2026 kembali mempertegas ketentuan penataan penampilan bagi peserta didik baru.
Petugas pengawas menyampaikan bahwa penggunaan penutup kepala dihentikan mulai sore hari karena jadwal pemotongan rambut akan segera dilakukan.
Titik terang mengenai landasan regulasi tersebut dipertanyakan Wafa saat penandatanganan lembar kesediaan di Aula Merah Putih.
Wafa: “Mengenai aturan lepas jilbab, apakah ada aturan tertulisnya? Karena saya lihat di surat perjanjian tidak ada poin spesifik yang menyebutkan.”
Ibu D: “Iya, nggak ada.”
Wafa: “Lantas, kalau boleh tau, kenapa harus lepas jilbab ya, Bu?”
Ibu D: "Itu arahan xxx saat jadi menteri pertahanan.”
Wafa: “Tapi, kalau saya tetap pakai jilbab, bagaimana?”
Ibu D: “Ya, nggak boleh. Nggak bisa. Dari cohort 1 sampai sekarang nggak ada kadet putri yang pakai jilbab.”
Wafa: “Tapi, kenapa kadet dari Palestina boleh memakai jilbab?”
Ibu D: “Mereka pengecualian. Ga terikat dengan aturan negara kita.”
Tekad bulat untuk mempertahankan keyakinan membuat Wafa memilih keluar dari ruang pendaftaran dan menandatangani surat pengunduran diri.
Kisah penolakan terhadap syarat tak tertulis itu dipublikasikan melalui media sosial hingga menuai gelombang simpati publik.
Catatan perjalanan tersebut diunggah oleh akun Instagram /pawnotes
_ yang menandai akun wafaahdina
pada Kamis (20/8/2026).
"Sedikit cerita dari pengalaman yang tak terlupa ????"
"Aku ingat, lagu ini disetel dan dinyanyikan bersama-sama di Aula Merah Putih, sehari sebelum pengumuman. Dari lantai 2, setelah shalat dhuha, aku memutuskan untuk menonton sebentar sambil menenangkan pikiran, berniat merekam momen gembira itu semauku. Namun, berbagai kekhawatiran justru mendatangiku dan tanpa bisa ditahan ... aku menumpahkan semuanya melalui air mata," tulisnya.
"Mohon doanya untuk kelancaran studi kedokteranku di kampus yang nggak kalah keren ya, semua ????????," tulisnya.
Dukungan mengalir deras dari netizen yang mengapresiasi keteguhan sikap sang calon dokter muda.
Akun @inyunita_ menulis, "Kak kamu keren karena sudah mempertahankan prinsipmu sebagai seorang muslimah, saya salut sekali kamu berani mengambil keputusan meskipun tentunya keputusan tersebut tidak mudah namun kamu berani memutuskan karena ingin tetap teguh dalam syariat Allah. Semoga Allah lancarkan kuliahmu yaa di tempat terbaik yang sudah Allah pilihkan untukmu dan kelak semoga menjadi seorang dokter muslimah yang bermanfaat untuk umat."
Akun @hannyfzh juga memberikan dukungan.
"Kakkk semoga Allah jaga ya kak. Semoga Allah beri taufiq sepanjang hidup kita. Allah kasih kita nikmat berupa lingkungan yg support kita jalanin agama Islam dgn sungguh2 ???? Barakallahu fiik," tulisnya.
Sementara akun @kawanhawa menyampaikan apresiasi terhadap keputusan Wafa dan meminta izin membagikan kembali ceritanya di platform mereka.
"Assalamu'alaikum kak, kami dari tim Kawan Hawa sangat mengapresiasi keputusan kamu. Kamu keren banget kak, semoga Allah mudahkan setiap langkah kamu ya kak. Kita juga izin untuk up cerita kamu di platform kami ya kak dengan tetap mencantumkan sumber. Terima kasih banyak kak????," tulis akun tersebut.
Pihak pengelola perguruan tinggi militer belum memberikan keterangan resmi terkait polemik aturan seragam tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok